Puisi untuk Aisyah

Dalam pembicaraan bersama Aidit
Kami menyimpulkan
Kami harus berperang
Kami harus membunuh semua orang
Yang mencari tanah air bagi mereka
Kami harus membunuh
Sampai kami punya tanah air
Terbentang dari sungai ke sungai(Penyair Israel, Absholom Cour, 1982)

Matanya merah padam. Tangannya mengepal kuat, sedang kedua bibirnya seperti saling memangsa dengan ganasnya. Ia benar-benar dalam amarah.

Ia mencibir pada setiap orang di sekelilingnya. Wajah-wajah mereka pucat pasi dalam deraan ketakutan. Tampak lima wajah lain dengan air muka yang sama, sama gundahnya, sama gelisahnya. Namun terlihat begitu banyak tangan, ia tak sanggup menghitungnya.

Di sini, setiap saat ia bisa mati. Banyak benda keras yang tak pernah lepas dari pandangannya. Benar-benar ancaman mengerikan.
Ketika melangkah ke arah bangunan oenjara, ia sengaja melebarkan langkah-langkah kakinya. Rasanya memang harus begitu. Ia harus mengimbangi keperkasaan slogan dan yel bocah-bocah kecil itu, yang selalu memadati jalan-jalan Palestina, dan nekat mengguncang bumi manusia. Kini ia merasa saatnya memuntahkan seluruh kemarahannya. Sudah terlalu lama amarah itu terpendam di dalam lambung kesedihannya.

Ia dibawa ke sebuha penjara tua. Segera saja tercium bau kematian di tiap sudut ruangan, dan di tiap jengkal tembok hitam yang mengurungnya. Sesaat ia mencoba meraba denyut napasnya. Dan tiba-tiba saja ia tidak percaya bagaimana ia bisa bertahan hidup di tengah kancah kematian itu.

Benar-benar ajaib. Sekali lagi ia meniupkan napasnya ke jari-jari tangannya. Tiba-tiba ia tersenyum. Ya, benar. Itu napasnya. Ia masih hidup. Ia mencoba meraba tembok-tembok bisu ia bagai seorang bocah yang berusaha menafsirkan kebisuannya. Tidka hanya itu. Ia juga menciumnya, merabanya dengan bibirnya. Beberapa saat kemudian, perlahan-lahan ia sandarkan kepalanya ke dinding penjara. Air matanya tumpah berderai.

Tiba-tiba pintu penjara terbuka. Dua orang serdadu Israel masuk. Sambil menodongkan moncong senapan ke mukanya, seorang di antara mereka membentak, “Ayo ikut!”

“Ke mana?”

“Ke neraka!”

Ia tersenyum kecut dengan wajah masam. Ia berdiri dan melangkah mengikuti kedua serdadu itu. Di sekitarnya ribuan pasang mata menyorotnya dengan tatapan sinis, sampai terasa tembus ke tiap jaringan tubuhnya.

Ruangan itu diterangi lampu yang bersinar agak redup. Ia duduk di atas sebuah kursi kecil. Terpekur. Sebentar kemudian ingatannya melayang ke Gaza. Adiknya, Rukayah, paling suka duduk di kursi berkaki tiga. Serta merta senyum kecut membersit dari bibirnya. Ia mencibiri dirinya sendiri, dan berkata: “Ah, Rukayah! Andaikan kau tahu bagaimana keadaan kakakmu, Muhammad, yang kini duduk di atas kursi yang…hanya berkaki satu!”

Tiba-tiba interogator membuyarkan lamunannya dengan pertanyaan:

“Bagaimana kamar anda, Anda cukup tenang?”

Ejekan yang pahit! Ia hanya bisa menelannya. Lalu membalasnya dengan nada yang sama:

“Tidak! Tapi saya kagum dengan perlakuan kalian!”

“Saya harap Anda bersiskap lebih ramah di sini, kalau Anda ingin diperlakukan dengan baik.”

“Maksudnya?”

Interogator itu seketika tersenyum. Ia menawarkan rokok, lalu berkata dengan nada bersahabat:

“Anda kelihatan lebih cerdas dari rekan-rekan Anda yang lain. Kami hanya ingin Anda lebih terbuka menjawab pertanyaan-pertanyaan kami. Untuk itu anda boleh memegang janji kami. Anda pasti akan kami kembalikan ke ibu Anda. Kami yakin Anda tentu sedih karenanya, bukan begitu?”

“Saya bukan ank kecil lagi yang bisa bertindak setolol itu!”

“Tapi kita semua ‘kan anak kecil, Muhammad! Yah, minimal di mata ibu kita?”

“Saat datang ke negeri kami, kalian telah merampas semua yang kami miliki. Termasuk watak kekanakan kami!”

“Mungkin And aperlu tahu, kami ke sini bukannya datang, Muhammad! Akan tetapi kembali. Mengerti! Yah, kami hanya kembali!”

“Yang pasti negeri ini milik kami, setuju atau tidak!”

“Negeri ini ‘kan luas, cukup untuk kita bersama.”

“Lantas, emngapa kalian membunuh kami?”

“Karena kalian menolak keberadaan kami.”

“Kami tidak pernah sekalipun membunuh wanita-waita dan anak-anak kalian. Kami juga tidak pernah meledakkan rumah-rumah kalian.”

Si interogator menatap Muhammad dengan tajam. Ia merasa keramahannya sia-sia. Tak secuilpun berhasil ia korek.

“Untuk inikah kalian membawaku ke sini?” kata Muhammad tiba-tiba, ketus.

Interogator menyalakan sebatang rokok. Tatapannya terus menyapu Muhammad. Lalu, sambil tersenyum, ia kembali bertanya.

“Anda pasti berasal dari keluarga besar…”

“Saya bersaudara laki-laki delapan orang,” jawab Muhammad.

“Plus dua saudara perempuan,” potong sang inetrogator. “Yang seorang meninggal dalam usia sembilan tahun karena jatuh ke sumur, dan yang seorang lagi kini hidup bersama ibumu di Gaza. Siapa namanya, Muhammad?”

“Namanya? Maut!”

“Anda mulai berbohong!”

Muhammad tidak menjawab. Sekilas kegembiraan mulai membayang di permukaan wajah interogator Yahudi itu. Ia pun bersikap lebih ramah lagi. “Dan…Rukayah tidak mirip dengan Anda, Muhammad!” katanya melanjutkan.

Mata Muhammad berbinar. Inilah untuk peratma kalinya ia lari dari ketakutan. Namun ketakutan itu terus mengejarnya. Ia menelan satu dua napasnya. Ia terdiam.

“Andaikan Anda mau bekerja sama dengan kami, mungkin kami akan membolehkan dia menjenguk Anda. Bahkan kalau nanti Anda berhasil merebut kepercayaan kami, barangkali Anda akan kami bebaskan,” kata Interogator itu lagi.

Muhammad mencibiur, lalu berkata, “Manusia hanya mati satu kali!”
Sekonyong-konyong amarah besar si interogator meledak. “Oke, oke! Akan kita buktikan, Muhammad! Akan kita buktikan!” Kepada prajuritnya ia memberikan isyarat untuk membawa pergi Muhammad. “Gantung dia di atas atap dalam keadaan telanjang…selama tiga hari, biar kakinya berkelahi melawan kerinduan akan tanah tempat berpijak!”

Tapi yang kemudian mereka lakukan adalah menjebloskannya ke dalam sebuah kolam berisi air es. Segera terdengar erangan pilu yang amat menyayat dari sekujur tubuhnya. Mereka tetap membiarkannya di situ, sampai mereka mengira nyawanya telah terenggut berkali-kali. Mereka tak henti menendangnya, dan meludahi tubuhnya. Agaknya mereka tahu bahwa untuk mengembalikan sisa-sisa kekuatannya ia membutuhkan satu tahun kematian.

Lama kemudian mereka mengembalikan Muhammad ke selnya. Dan yang terlihatnya hanya dinding-dinding hitam. Gelap pekat. Dingin udara pun terasa sangat mengigit, kemudian ingatannya melayang kembali ke Gaza. Ejekan keputusasaan memenuhi wajahnya.
(Dulu Muhammad sering dipukul ayahnya karena ia terlalu banyak bicara. Dunia yang betul-betul rumit. Barangkali hanya ada satu hal yang tetap logis di sini: kematian).

*****

Seorang prajurit mendekati interogator tadi. Ia tampak sangat emosional. “Hanya setrum listrik yang cocok untuk mereka,” katanya.

“Apa Anda tidak melihat bahwa ia terlalu banyak berteriak-teriak?”

“Semua orang berteriak.”

“Saya kira sebaiknya kita berusaha memanfaatkannya.”

“Mustahil!”

“Tapi kita harus berusaha.”

“Pemuda-pemuda itu lebih suka dimangsa anjing-anjing daripada mengulurkan tangannya kepada kita.”

“Tapi kita telah pernah sukses dengan yang lain, bukan?”

“Namun si Muhammad berbeda dengan yang yang lain itu.”
Sejenak sang interogator termenung, berpikir. “Karena itu kita harus berusaha. Sekarang hentikan penyiksaan. Saya ingin menemuinya besok,” katanya berkeras.

Keesokkan harinya mereka menghadapkan Muhammad kembali ke interogatornya. Muhammad meras sedikit lega. Langsung saja ia melemparkan tubuhnya ke atas kursi, lalu mengambil segelas air. Interogator Yahudi itu tampak gembira, ia tersenyum. Ia memberi isyarat kepada Muhammad, mengambil apa saja yang dia inginkan.

Muhammad dengan susah payah meneguk air minumnya. Itu merupakan pemandangan yang indah bagi si Interogator. Ia betul-betul menikmatinya. Ia makin bersemangat untuk menunjukkan kesan dan iklim persahabatan dalam ucapan-ucapannya.

“Berapa umur anda, Muhammad?”

“Intifadhah meledak ketika saya berumur 20 tahun.”

“Kalau begitu, sekarang anda masih berumur 20 tahun.”

“Lalu, dalam tahun-tahun Intifadhah, Anda tidak menghitungnya sama sekali?”

“Anda tidak mungkin menghitung tahun-tahun yang ganas itu sebagai bagian dari umur anda, Muhammad. Anda dan keluarga Anda tidak pernah merasakan tahun-tahun itu. Tahun-tahun pemogokan, lontaran batu, pengrusakan. Semuanya jelas mematikan kehidupan. Anda masih terlalu muda. Di depan Anda, hidup ini menawarkan peluang-peluang yang sangat menggiurkan. Mengapa umur Anda harus berhenti sebelum Anda menikmatinya? Lantas untuk siapa itu, Muhammad? Tentu saja untuk orang-orang goblok itu, yang salah memimpikan kemustahilan!”

Ia terdiam sejenak. Kemudian menghembuskan asap rokoknya kuat-kuat. Ia ingin mengesankan bahwa ia benar-benar meresapi ucapannya, dan karenanya sangat terpengaruh.

“Pernahkah Anda memimpikan seorang gadis cantik yang sellau setia mendampingi dan bersama menikmati masa muda Anda, yang kini terancam akan lenyap sia-sia? Tanpa merasakannya sedikit pun? Anda masih muda, Muhammad! Anda seorang pemuda. Adalah hak Anda untuk tidur di atas kasur empuk, bukan di penjara bengis seperti ini. Adalah hak Anda untuk hidup seperti kebanyakan pemuda lainnya. Ah, saya rasanya kurang percaya kalau Anda belum punya kekasih!”

“Itu adalah impian-impian indah yang akan sanggup kami raih!”

“ah, gampang itu. Itu urusan kami, pasti beres. Asal Anda bersedia bekerja sama dengan kami.”

“Saya hanya….”

Terasa ada sesuatu yang ingin diucapkan Muhammad. Dan interogator itu dapat menduga. Maka ia pun bergegas memotong ucapan Muhammad dengan girang. “Oh, tidka perlu. Tentang apa yang nanti Anda lakukan untuk kami, itu tidak terlalu penting. Kami hanya ingin memastikan bahwa Anda benar-benar berpihak pada kami.”

Tiga menit berlalu dengan diam. Tak seorang pun mencoba memcah keheningan itu. Tapi, dengan nada tinggi, si interogator akhirnya memcah kebisuan: “Siapa yang memprovokasi kalian agar mengganggu tentara kami?”

“Kalian.”

“Maksud Anda?”

“Keberadaan kalian di jalan-jalan, di depan orang-orang, dan sorotan mata kalian yang hapal betul tempat-tempat keberadaan bocah-bocah kami, dan ceceran darah, dan kehinaan. Semua itulah yang memkasa kami melempari kalian dengan batu.”

“Justru kalianlah yang melempar anak-anak kalian ke moncong senjata para prajurit kami, agar menyerang dan mengganggu mereka. Tentu saja tentara kami berhak membela diri.”

“Dan bangsa kami tidak berhak membela diri?”

“Oh, agaknya Anda merumitkan masalah. Kematian Usman, saudara Anda, itulah pemicunya. Ya ‘kan, begitu?”

Si interogator kembali mencoba memberi kesan bahwa ia cukup terpengaruh oleh ucapan emosionalnya. Ia berkata lagi: “Andaikan Anda juga ikut tewas, ah saya tentu tidak tahu apa yang akan terjadi pada ibu Anda.” Kemudian seperti teringat sesuatu, ia melanjutkan” “Muhammad, Anda belum mengatakan pada saya, apa yang Anda ketahui tentang kematian.”

“Saya ‘kan belum mati!”

“Anda tahu, di kamar Anda, sudah dua orang narapidana mati. Yang satu karena menolak bersikap ramah.”

“Yang satu lagi?” potong Muhammad.

“Mati sebelum kami sempat menawarkan hal yang sama padanya. Jadi, beruntunglah Anda. Karena Anda masih diberi peluang untuk hidup.”

“Kalau benar demikian, tentu saya tidak akan pernah dijebloskan ke sini.”

Interogator Yahudi itu tidak menjawab, ia malah menyilakan Muhammad minum. Sejurus kemudian dengan nada menyesalkan, ia melanjutkan:

“Agaknya hanya Anda yang sellau menangis seorang diri. Apa keuntungan yang mungkin Anda peroleh kalau Anda justru dijebloskan di penjara ini? Anda akan menjadi bangkai yang tidak lagi dapat merasakan denyut kehidupan? Lantas, untuk siapa Anda berjuang? Mereka semuanya menjual Anda, Muhammad! Dan sekarang Anda kami beri peluang untuk menebus diri Anda dengan beberapa potong kata saja.”

“Muhammad hanya diam, seperti yang sebelumnya, ia tidak bergairah menjawab. Sementara sorot mata si interogator mulai mengekspresikan kesan lain. Tatapannya berubah dan makin tajam. Ia mengancam Muhammad:

“Saya bisa saja memaksa Anda mengakui keterlibatan Anda dalam sebuah serangan terhadap patroli Israel, serangan yang menewaskan salah seorang prajurit kami.”

“Sejak kapan kalian harus menyiapkan alasan untuk membunuh?” jawab Muhammad dingin.

“Saya tidak ingin membunuh Anda. Anda tentu tahu bahwa saya bisa memperoleh apa saja yang saya inginkan dari Anda, tanpa harus membuang-buang waktu. Akan tetapi ijinkan saya mengagumi Ada, Muhammad. Biarlah kita menajdi sahabat. Saya hanya ingin Anda menyebut nama-nama orang yang mengharamkan bangsa kami dari kenikmatan hidup.”

“Lho, selama ini ‘kan hanya kalian yang menikmati hidup?”

“Kami akan mengganti semuanya demi Anda.”

“Tidak adakah sesuatu yang lain yang dapat kalian berikan kepada saya?”

“Usman, saudara Anda itu, adalah korban orang-orang goblok, Muhammad. Anda dan saya akan memaksa mereka membayar harganya.”

“Saya tidak kenal dengan orang-orang itu.”

“Muhammad, Anda tahu saya bisa memaksa Anda menyebut nama-nama mereka. Namun say alebih suka menggunakan cara lain pada Anda. Muhammad, bantulah saya, agar saya juga dapat membantu Anda.”

Ia terdiam sejenak, lalu kembali mengancam: “Bagaimana dengan ibu Anda, Muhammad?”

“Ibu saya sudah terbiasa kehilangan oarang-orang yang dicintainya!” kata Muhammad datar.

Sekonyong-konyong si interogator menatap dengan tajam. Matanya merah menyala-nyala. Ia benar-benar marah. Sementara itu Muhammad mengedarkan pandangannya ke sekeliling dengan perasaan sesak. (Di situ hanya ada sebuah kursi kecil, dan seketika interogator itu kelihatan lebih pendek dari kemarin). Muhammad berdiri dan ia bertekad akan tetap menutup mulut. Dengan suara keras ia berkata: “Tak ada sesuatu yang bisa aku katakan.”

Langsung saja –dengan gerakan yang sangat emosional- si interogator menyuruh anak buahnya mengembalikan Muhammad ke selnya.

Di ruang penyiksaan, Muhammad bagai seutas kain kusut di tangan mereka. Mereka benar-benar menikmati bagaimana menusukkan jarum-jarum ke tubuh Muhammad. Namun kebisuan Muhammad justru membuat kemarahan mereka makin memuncak. Mereka terus menyiksanya, terus, dan terus, tanpa henti.

Suatu ketika, kepada saah seorang serdadu itu, interogator bertanya tentang Muhammad. Yang ditanya menjawab dengan kesal:

“Orang-orang Palestina itu seperti kucing, Pak. Dari dulu mereka tidak mati-mati juga. Dan mungkin untuk selamanya akan begitu!”

“Kita memang tidak menginginkan dia mati!”

“Namun dia tetap tidak akan buka mulut, Pak.”

“Tidak usah khawatir, suatu saat dia pasti akan membuka mulutnya. Siksaan bakal membuatnya menjadi manusia lain.”

Sesaat sang interogator terdiam. Sambil mengerucutkan mulutnya ia memandang sekitarnya. Dicobanya merenung sejenak. Lalu, dalam nada memerintah, ia berkata keapda anak buahnya: “Izinkan ibunya menemuinya.”

“Lho, kunjungan keluarga ‘kan dilarang, Pak?”

“Turuti perintahku!” bentaknya keras.

“Percayalah, Pak, sekali ia melihat ibunya, perlawanannya paati makin kuat.”

“Teruskan menyiksanya. Saya ingin ibunya melihatnya menjadi bayang-bayang.”

Muhammad tidak dapat melihat lagi. Benda-benda itulah yang justru mencari dan melihat tubuhnya. Mereka membaringkannya di atas meja yang penuh paku. Muhammad berusaha mengangkat tubuhnya. Namun gagal. Ia tidak lagi punya sisa tenaga untuk bangkit. Ia menutup matanya. Perih, Sangat perih. Ia terus memperhatikan serdadu-serdadu itu, yang kini sedang menyiapkan tiang gantungan. Mereka sudah capek membenturkan kepala Muhammad ke tembok.
Empat bulan sesudah itu, barulah mereka mengijinkan ibunya menjenguk. Muhammad berusaha tersenyum ketika dengan amat pilu ibunya merangkul tangannya dan terus menciuminya. Ia menyandarkan kepalanya ke dada ibunya. Dan tangisnya meledak. Air matanya tumpah berderai. Ibunya pun kian mengencangkan dekapannya. Pertemuan itu tiba-tiba menjelma menjadi pemandangan yang mengharu-biru. Seluruh perasaan dan harapan serta rindu menjelma menjadi air mata!

Tiada kata-kata. Yang ada hanya air mata, dari awal pertemuan hingga akhirnya mereka berpisah lagi. Air mata mengawali dan mengahiri pertemuan mereka. Ibunya memegang tangannya erat-erat. Ia berusaha mengucapkan sesuatu. Tapi gagal, ia tak kuasa. Akhirnya ia hanya bisa mengembangkan sesungging senyuman kecil, lalu pergi.

Setelah ibunya pergi, Muhammad mencium setiap jengkal dinding kamar penjaranya! Ia menangis sejadi-jadinya. Kini ia baru merasakan, betapa tangis benar-benar sebentuk kenikmatan dari Allah. Dan bahwa seorang ibu, sesungguhnya selalu merupakan wajah hakiki dari semua bentuk kegembiraan manusia. Sepanjang masa, selamanya.

Tiga bulan sesudah itu, keadaannya masih begitu-begitu saja. Tidka ada perubahan apa-apa. Serdadu-serdadu Israel tampaknya juga sudah bosan menyiksanya. Kini mereka menyatakan ingin benar-benar membunuhnya.

Seklai ini, di ruang interogasi itu, mereka tidak membolehkan Muhammad duduk di atas kursi. Interogator yang sebelumnya mencoba bersikap ramah kini mencibirnya. Ia berkata: “Sekarang Anda benar-benar rugi. Anda telah kehilangan semua peluang baik. Dan kini hanya tinggal satu pilihan bagi Anda: pengasingan!”

“Pengasingan?” tanya Muhammad.

“Besok Anda akan kami berangkatkan.”

“Ke mana?”

“Ke mana saja. Yang pasti, jauh dari negeri ini.”

Negeri. Tanah air, Itulah impian yang tidak menyenangkan para pengecut. Itulah kata terindah di masa terburuk.
Sebutir embun kecil perlahan bergulir dari pelupuk matanya. Namun senyumnya tetap tersungging, tak sampai lepas dari bibirnya. Ia bahkan menantang interogator itu:

“Anda sebenarnya juga sedang hidup dalam pengasingan. Kalian smeua hidup dalam pengasingan. Dan sorotan mata kami adalah kuburan bagi kalian!”

Keesokan harinya, Muhammad meninggalkan penjara. Semua orang yang keluar dari penjara denga melangkahkan kakinya tegap-tegap. Kecuali Muhammad. Ya, kecuali Muhammad. Karena langkah kakinya tertinggal di pintu penjara itu dan ia harus puas berjalan tanpa kedua kakinya. Ia pergi.

Ungkapkan pendapat Anda