Arsip untuk Bayi & Anak

BERAT DAN TINGGI BADAN RATA-RATA

BERAT DAN TINGGI BADAN RATA-RATA
(Umur 0-5 Tahun, jenis kelamin tidak dibedakan)

Umur Berat (Gram) Tinggi (Cm)
Standar 80% Standar Standar 80% Standar

Lahir 
0 – 1 Bulan
     2 Bulan
     3 Bulan
     4 Bulan
     5 Bulan
     6 Bulan
     7 Bulan
     8 Bulan
     9 Bulan
     10 Bulan
     11 Bulan
     12 Bulan

3.400
4.300
5.000
5.700
6.300
6.900
7.400
8.000
8.400
8.900
9.300
9.600
9.900
2.700
3.400
4.000
4.500
5.000
5.500
5.900
6.300
6.000
7.100
7.400
7.700
7.900
50.5
55.0
58.0
60.0
62.5
64.5
66.0
67.5
69.0
70.5
72.0
73.5
74.5
40.5
43.5
46.0
48.0
49.5
51.0
52.5
54.0
55.5
56.5
57.5
58.5
60.0
1 tahun 3 Bulan
           6 Bulan
           9 Bulan
10.600
11.300
11.900
8.500
9.000
9.600
78.0
81.5
84.5
62.5
65.0
67.5
2 tahun  0 Bulan
            3 Bulan
            6 Bulan
            9 Bulan
12.400
12.900
13.500
14.000
9.900
10.500
10.800
11.200
87.0
89.5
92.0
94.0
69.5
71.5
73.5
75.0
3 tahun  0 Bulan
            3 Bulan
            6 Bulan
            9 Bulan
14.500
15.000
13.500
16.000
11.600
12.000
12.400
12.900
96.0
98.0
99.5
101.5
77.0
78.5
79.5
81.5
4 tahun 0 Bulan
           3 Bulan
           6 Bulan
           9 Bulan
16.500
17.000
17.400
17.900
13.200
13.600
14.000
14.400
103.5
105.0
107.0
108.0
82.5

85.5
86.5

5 tahun  0 Bulan 18.400 14.700 109.0 87.0

Sumber : Direktorat Gizi, Departemen Kesehatan RI

Komentar bertahan »

Mempelajari Tangisan Bayi

Setiap kali seorang bayi menangis, pasti si ibu akan
menyorongkan payudaranya atau membopongnya.
Tapi, ketika dua hal itu sudah dilakukan, dan si mungil
masih saja menangis, barulah si ibu bingung. Nah, coba saja si ibu tahu arti tangisan itu, kan tak perlu bingung ? Tapi, bagaimana tahu arti tangisan bayi? Baca entri selengkapnya »

Komentar bertahan »

Peran ayah terhadap kecerdasan balita

ADA sepenggal syair lagu yang cocok melukiskan peran seorang ayah di mata anaknya. “ I love you, Daddy…you are my hero…” potongan syair lagu tersebut menggambarkan betapa ayah memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan anak. Sehebat-hebatnya ibu mengurus anak, tetaplah kurang tanpa dukungan dan keterlibatan Baca entri selengkapnya »

Komentar bertahan »

Mendidik Anak Cerdas dan Berbakat

Oleh: Dr. Andyda Meliala

Sebagai orang tua masa kini, kita seringkali menekankan agar anak berprestasi secara akademik di sekolah. Kita ingin mereka menjadi juara dengan harapan ketika dewasa mereka bisa memasuki perguruan tinggi yang bergengsi. Kita sebagai masyarakat mempunyai kepercayaan bahwa sukses di sekolah adalah kunci untuk kesuksesan hidup di masa depan. Baca entri selengkapnya »

Komentar bertahan »

Sudah Benarkah Permainan Kreatif Anak Anda ?

Beberapa waktu yang lalu saya melihat sebuah acara di TV Jepang yang sangat memprihatinkan, dimana dari hasil penelitian menunjukkan bahwa masalah terbesar yang dihadapi oleh anak adalah keterlambatan dalam kemampuan bahasa/komunikasi pada saat anak tersebut menginjak usia 3-4 tahun. Mengapa hal ini terjadi ?  Baca entri selengkapnya »

Komentar bertahan »

10 CARA MEMBUAT BALITA CERDAS

Anak balita memiliki kemampuan yang luar biasa untuk menyerap kepandaian dan informasi baru dibandingkan anak yang berusia lebih tua. Penelitian menunjukkan, mengenalkan pada kegiatan membaca, bahasa, dan matematika sejak usia balita, akan membuat mereka lebih mudah menangkap pelajaran tersebut nantinya. Baca entri selengkapnya »

Komentar bertahan »

Punyaku, Punyamu, Punya Kita

Saling pinjam dan berbagi barang antar kakak-adik atau teman sepermainan sesungguhnya tidak
masalah. Asal, tidak main serobot tentunya.

Rifki (10) suka sekali memakai kaos bola Zaki (12), kakaknya. Awalnya sih masih pakai izin, tapi sekarang justru lebih sering pinjam tanpa izin. Akibatnya Zaki kerap kesal karena saat ingin memakai kaos kesayangannya, kaos itu tidak ada. Puncak kekesalannya terjadi saat berlangsung pertandingan final sepakbola antar RW, kaosnya itu lagi-lagi sedang dipakai Rifki.

Begitu juga Zahra (10) yang suka memakai tas Barney milik Aisyah (6), adiknya. Mulanya, Zahra hanya meminjam saat ada kegiatan ekstrakurikuler saja. Tetapi lambat laun, setiap ada kesempatan, ia memakai tas adiknya itu ke sekolah. Bahkan setelah sebulan berselang, ia bilang pada semua orang bahwa tas itu adalah miliknya.

Belajar berbagi
Kalimat “Aku pinjam tasnya, boleh?” sepintas tampak sepele. Padahal, kemampuan pinjam-meminjam terkait dengan banyak hal. Mulai dari kemampuan menghargai hak milik orang lain, berbagi, sampai tanggung jawab menjaga barang sendiri maupun barang pinjaman. Menurut Ika Pambadjeng, Psi, Psikolog Q Consultan, berbagi adalah sebuah proses belajar dan termasuk satu bentuk ketrampilan yang harus terus diasah karena balita atau batita ‘ego’nya begitu tinggi.

Bagi seorang anak, saat tertarik pada barang tertentu dan muncul keinginan untuk memilikinya, mereka akan langsung mengambil atau menguasai barang tersebut dengan atau tanpa izin. Bahkan bagi anak, mereka tak perlu tahu siapa pemilik barang yang sebenarnya. “Kalau aku suka, ini punya aku. Semua barang punyaku,” Ika menirukan ucapan balita pada umumnya dalam memandang barang milik orang lain yang ditaksirnya. Tak heran, anak-anak jadi sering berantem dengan teman atau saudara dengan alasan rebutan.

Bila rentang usia kakak dan adik cukup jauh, misalnya kakak sudah SD dan adik masih balita, kakak bisa saja mengalah pada adiknya. Repotnya, bila usia anak sama-sama balita, atau sama-sama SD. Kebutuhan terhadap barang mereka sama besar, sementara kematangan untuk berbagi belum cukup. Bila keadaannya seperti itu, maka yang harus diajarkan adalah adab meminjam, bukan berbagi. Baik untuk barang-barang besar hingga kecil, seperti sepeda, bola, buku, mainan, dan sebagainya.

Sadar hak milik
Tumbuhnya kesadaran anak soal pinjam-meminjam barang harus dimulai dari pengajaran tentang hak kepemilikan barang. Anak harus tahu bahwa ada barang yang menjadi miliknya sendiri, milik orang lain, dan milik bersama. Siapa pun yang hendak memakai barang orang lain, termasuk orangtua, harus izin terlebih dahulu. Misalnya, “Ibu perlu pensil untuk menulis, bolehkah pinjam pensil Kakak?”

Sayangnya, orangtua justru sering lupa meminta izin bila mau meminjam barang dari anaknya dengan pikiran toh barang ini dari saya juga…saya yang membelikannya. Padahal dengan pembiasaan meminta izin, anak-anak belajar menghargai milik orang lain sekaligus terlatih juga untuk bertanggungjawab menjaga barang miliknya. Tanpa izin, maka seorang Kakak, misalnya, tidak berhak memakai tas Adik, seberapapun besar keinginannya untuk memakainya. Memakainya saja tidak berhak, apalagi mengakui sebagai miliknya. Sementara bila satu barang disepakati menjadi milik bersama, perlu ditetapkan kesepakatan-kesepakatan yang dirancang dan dipatuhi bersama pula. Misalnya, sepeda. Atur waktu pemakaian agar Kakak-Adik menyepakati waktu gilirannya.

Lamanya proses belajar menyadari pentingnya menghargai hak milik ini memang tidak sama pada setiap anak. Ada anak yang cepat paham, ada yang tidak. Ada juga anak yang paham, tapi tidak sabar. “Aku tahu ini punya Kakak, tapi aku mau pakai.” ujar Ika mencontohkan. Dalam keadaan seperti itu, orangtua perlu turun tangan menjelaskan atau dalam kondisi darurat, melerai, memahami masalahnya, melihat siapa yang salah, lalu mengambil tindakan untuk mengatasinya. Hanya saja perlu diingat, jelas psikolog jebolan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini lagi, penjelasan sebenarnya sedikit sekali pengaruhnya pada anak. Yang paling baik adalah memberikan pembiasaan.

Soal ketidaksabaran, biasanya berhubungan dengan kematangan emosi. Pada anak laki-laki, ketidaksabaran ini umumnya membuatnya cepat berkelahi. Untuk mengatasi keadaan itu, Ika menyarankan orangtua secara teknis menahan badannya, memeluk, supaya tidak terjadi pukul-pukulan, atau menenangkan kalau salah satu menangis. “Tapi intinya, semua harus dimulai dengan mengenalkan dan membiasakan. Ini punyaku, ini punya kamu, ini punya kita berdua, dan kalau mau meminjam harus minta izin,” saran Ika, yang juga menjadi konsultan di Birru Consulting ini. Untuk memudahkan, boleh saja orangtua melakukan hal yang kreatif, misalnya dengan memberi tanda, label, atau menempelkan foto pada barang masing-masing.

Belajar bertanggungjawab
Menumbuhkan kesadaran hak milik sebaiknya juga dibarengi proses mengajarkan tanggung jawab dengan memberikan penekanan pada tanggungjawab keseharian seperti “Ini sepatu Kakak, simpan yang baik, dijaga ya.” Begitu juga kalau barang anak rusak atau hilang oleh dirinya sendiri, jangan segera membantu atau menggantinya tetapi mintalah anak bertanggungjawab terlebih dahulu. Kesalahan yang sering dilakukan orangtua adalah tidak mempersoalkan keadaan barang anak-anak, apakah rusak, hilang, atau tertinggal di suatu tempat.

Konsistensi orangtua juga sering hilang karena tidak tahan tangisan anak. Dengan mudahnya, orangtua membelikan barang baru, apalagi jika harganya murah tanpa mempersoalkan kenapa barangnya rusak atau hilang. “Daripada anak nangis, balon kan cuma lima ratus. Udah beliin lagi aja…” ujar Ika menyayangkan prinsip salah kaprah para orangtua.

Anak yang tidak merasa bertanggungjawab terhadap barang miliknya, bahkan mudah saja memberikan barang itu pada orang lain, meski masih baru. Kelihatannya baik hati, tetapi menurut Ika tidak demikian. “Perilaku itu bukan menunjukkan kematangan perilaku dalam berbagi meskipun kelihatannya baik hati. Itu lebih dikarenakan anak tidak merasa memiliki tanggungjawab dan penghargaan atas barang miliknya, sehingga hilang pun tak jadi masalah,” jelasnya.

Karenanya perlu dipahami bahwa kemampuan berbagi justru dimulai dari kemampuan merasa memiliki terlebih dahulu, sehingga ketika anak memberikan barangnya kepada orang lain, ia akan merasa bahwa ia sedang memberikan atau meminjamkan miliknya kepada orang lain

Tak ada kata terlambat
Untuk mengajarkan tanggung jawab menjaga barang dan penyadaran hak milik, Ika menyarankan orangtua memulainya dari barang kesayangan anak seperti boneka, buku, bantal, dan sebagainya.

Sejak anak 3 tahun, orangtua sudah bisa mengajarkan, “Ayo simpan bukunya yang rapi, ya. Jangan sampai hilang.” Atau “Bonekanya jangan sampai hilang, ya, nanti kamu tak bisa tidur bareng boneka.” Atau “Ini punya kamu, kamu yang tanggung jawab, ya. Kamu harus mengurusnya sendiri.”

Memulainya memang paling baik pada saat anak masih balita, saat orangtua masih menguasai kehidupan anak seluruhnya. Bila anak sudah masuk SD, pembentukannya lebih sulit. “Anak SD perlu penjelasan, contoh yang lebih banyak, berkali-kali pula harus diiingatkan. Apalagi kalau remaja, yang merasa sudah punya otonomi sendiri,” tutur ibu dari satu anak ini.

Sebagai penutup Ika menjelaskan bahwa perubahan perilaku tak mungkin terjadi secara instan. Rumus dasarnya, berapa lama terbentuknya perilaku yang salah, selama itu pula harus diperbaiki. Jadi, kalau proses tidak bisa berbagi dan meminjamkan barang berlangsung sampai usia 9 tahun, kira-kira selama itu pulalah proses memperbaikinya. Meski demikian, tak ada kata terlambat, dan orangtua dapat memulainya serta membuat percepatan dengan mengubah perilakunya terlebih dahulu.

Komentar bertahan »

Bingkisan Berharga bagi Si Kecil adalah AQIDAH

Penulis: Ummu Ayyub
Dimurojaah oleh: Ustadz Subhan Khadafi

Fase kanak-kanak merupakan tempat yang subur bagi pembinaan dan pendidikan. Masa kanak-kanak ini cukup lama, dimana seorang pendidik bisa memanfaatkan waktu yang cukup untuk menanamkan dalam jiwa anak, apa yang dia kehendaki. Jika masa kanak-kanak ini dibangun dengan penjagaan, bimbingan dan arahan yang baik, dengan izin Allah subhanahu wata’ala maka kelak akan tumbuh menjadi kokoh. Seorang pendidik hendaknya memanfaatkan masa ini sebaik-baiknya. Jangan ada yang meremehkan bahwa anak itu kecil.Mengingat masa ini adalah masa emas bagi pertumbuhan, maka hendaknya masalah penanaman aqidah menjadi perhatian pokok bagi setiap orang tua yang peduli dengan nasib anaknya.

Penanaman Aqidah
Aqidah islamiyah dengan enam pokok keimanan, yaitu beriman kepada Allah subhanahu wata’ala, para malaikat, kitab-kitab, para rasul, hari akhir, serta beriman pada qadha’ dan qadar yang baik maupun yang buruk, mempunyai keunikan bahwa kesemuanya merupakan perkara gaib. Seseorang akan merasa hal ini terlalu rumit untuk dijelaskan pada anak kecil yang mana kemampuan berfikir mereka masih sangat sederhana dan terbatas untuk mengenali hal-hal yang abstrak.

Sebenarnya setiap bayi yang lahir diciptakan Allah subhanahu wata’ala di atas fitrah keimanan.
Allah berfirman dalam QS. Al Α’rof: 172 yang artinya, “Dan (ingatlah) ketika Rabb-mu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) ‘Bukankah Aku ini Rabb-mu?’ Mereka menjawab, ‘Betul (Engkau Rabb kami), kami menajdi saksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang yang lengah terhadap ini (keesaan Allah).’”

Adalah bagian dari karunia Allah subhanahu wata’ala pada hati manusia bahwa Dia melapangkan hati untuk menerima iman di awal pertumbuhannya tanpa perlu kepada argumentasi dan bukti yang nyata. Dengan demikian, menanamkan keyakinan bukan dengan mengajarkan ketrampilan berdebat dan berargumentasi, akan tetapi caranya adalah menyibukkan diri dengan al Quran dan tafsirnya, hadits dan maknanya serta sibuk dengan ibadah-ibadah. Kita perlu membuat suasana lingkungan yang mendukung, memberi teladan pada anak, banyak berdoa untuk anak, dan hendaknya kita tidak melewatkan kejadian sehari-hari melainkan kita menjadikannya sebagai sarana penanaman pendidikan baik itu pendidikan aqidah maupun pendidikan lainnya.

Teladan Kita
Jika kita perhatikan para rasul dan nabi, mereka selalu memberikan perhatian yang besar terhadap keselamatan aqidah putera-putera mereka. Perhatian nabi Ibrahim, diantaranya adalah sebagaimana terdapat dalam firman Allah subhanahu wata’ala yang artinya:
“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yaqub. (Ibrahim berkata): Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama islam.” (QS. Al Baqoroh: 132)

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: Ya Rabb-ku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala.” (QS. Ibrahim: 35)

Demikian juga Lukman mempunyai perhatian yang besar pada puteranya sebagaimana wasiatnya yang disebutkan dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala yang artinya:
“(Luqman berkata): Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS. Luqman: 16)

“Dan (ingatlah) ketika luqman berkata kepada anaknya, di waktu dia memberi pelajaran kepadanya: Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13)

Sejak Masih Kecil
Perhatian terhadap masalah aqidah hendaknya diberikan sejak anak masih kecil. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalam memberikan perhatian kepada anak-anak meski mereka masih kecil. Beliau membuka jalan dalam membina generasi muda, termasuk diantaranya Ali bin Abi Thalib yang beriman kepada seruan nabi ketika usianya kurang dari sepuluh tahun.

Begitu juga dalam menjenguk anak-anak yang sakit pun beliau memanfaatkan untuk menyeru mereka kepada Islam yang ketika itu di hadapan kedua orang tua mereka. Kita juga bisa melihat bagaimana Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasalam mengajarkan permasalahan aqidah pada Ibnu Abas radhiyallahu ‘anhu yang pada saat itu dia masih kecil.

Imam Tirmidzi meriwayatkan hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata: Pada suatu hari saya pernah membonceng di belakang Rasulullah lalu beliau bersabda, “Wahai anak muda, sesungguhnya aku mengajarkan kepadamu beberapa kalimat. Jagalah Allah, niscaya Ia juga akan menjagamu. Jagalah Allah niscaya engkau akan mendapati-Nya ada di hadapanmu. Apabila engkau meminta sesuatu, mintalah kepada Allah. Ketahuilah, andaikan saja umat seluruhnya berkumpul untuk memberikan kemanfaatan kepadamu mereka tidak akan bisa memberikan manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andaikan saja mereka bersatu untuk menimpakan kemudharatan terhadapmu, mereka tidak akan bisa memberikan kemudharatan itu terhadapmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan lembar catatan telah kering.”

Jika para teladan kita begitu perhatian dengan anak-anak sejak mereka masih kecil, maka sangat mengherankan jika kita membiarkan anak-anak kita tumbuh dengan kita biarkan begitu saja terdidik oleh lingkungan dan televisi.

Masih banyak kita dapati bahwa oleh banyak orang, anak kecil dianggap tidak layak untuk diberi penjelasan mengenai Al Quran dan maknanya, dianggap tidak berhak untuk diberi perhatian terhadap mentalitasnya. Terkadang dengan berdalih “Kemampuan berfikir anak kecil masih sederhana, maka tidak baik membebani mereka dengan hal-hal yang rumit dan berat. Tidak baik membebani anak di luar kesanggupan mereka.” Atau kita juga banyak mendapati ketika anak terjatuh pada kesalahan-kesalahan, mereka membiarkan begitu saja dengan berdalih “Ah… tidak apa-apa, mereka kan masih kecil.”

Dalih yang disampaikan memang tidak sepenuhnya salah, namun sayangnya tidak diletakkan pada tempatnya. Wallahu a’lam.

Maroji’: Manhaj At-Tarbiyyah An-Nabawiyyah lit-Tilf (terj. Mendidik Anak Bersama Nabi)

Komentar bertahan »

TV Bagi Balita Kita

televisi barangkali menjadi media yang paling disukai orang tua untuk menghabiskan waktu anaknya. ada anaknya yang dari pagi sampai siang hingga sore bahkan malam terpaku didepan tv, dan orang tuanya senang karena dianggap anak ini tidak nakal. kebiasan menonton tv adalah kebiasan yang menyebabkan candu/ketagihan bagi pemirsanya, apakah candu terhadap materi acara atau candu terhadap jalan cerita pada drama serial. tapi jika kecanduan ini terjadi pada anak anak ini tentu sangat berbahaya.

ada penelitian yang mengungkapkan bahwa anak anak yang bermain di luar rumah dan aktif menunjukkan perilaku yang lebih baik daripada anak anak yang menghabiskan waktunya didepan tv. anak anak yang bermain di luar rumah lebih aktif dan kreatif karena mereka berbaur dengan teman temannya dan alam sekitarnya.

menjauhkan sama sekali anak anak dari televisi juga bukanlah keputusan yang bijak. ada acara tv yang dapat merangsang anak untuk berpikir kreatif dan menambah pengetahuannya. untuk kita yang punya layanan tv kabel barangkali lebih menyukai saluran national geografic untuk anak kita dibanding dengan acara yang disiarkan oleh tv nasional yang belakang _sangat_ tidak cocok untuk konsumsi anak. tema tema kekerasan, kriminal, dan materi untuk dewasa banyak sekali kita temukan di tv nasional kita juga di slot iklannya.

pembatasan menonton televisi adalah salah satu cara untuk menghentikan anak anak dari pengaruh negatif tv dan ketergantungan atas tv. american academy of pediatrics merekomendasikan hanya memberikan waktu 1-2 jam sehari untuk anak anak berumur lebih dari 2 tahun, dan sama sekali tidak memberikan tv untuk anak dibawah umur 2th. berikut adalah usaha yang dapat kita lakukan agar anak anak dapat menjadikan tv sebagai media pembelajaran:

lakukan pembatasan,
kita sebagai orang tua harus tegas mengatakan bahwa dia hanya punya waktu menonton tv 2jam sehari, untuk acaranya kita bisa pilihkan agar mereka lebih terarah. jangan ada tv di kamar tidur agar anak anak dapat istirahat dengan tenang, dan matikan tv ketika anak makan.
lihat acaranya
kita bisa pilihkan acara yang dia suka, misalnya pagi jam 8-8.30 nonton dora, jam 8.30-9 nonton blue’s clue. begitu waktu mendekati pukul 9 katakan bahwa blue akan selesai dan dia bisa bermain yang lain. katakan juga kepadanya tv segera dimatikan dan dinyalakan lagi sore jam 17-17.30 nonton little bear, jam 17.30-18 nonton mio. awalnya mungkin akan ada perlawanan, tapi dengan memberikan perngetian kepadanya dia akan segera mengerti. jangan lupa ketika tv sudah mati segera siapkan permainan yang tidak kalah serunya (sedapat mungkin menyambung atau terkait dengan materi yang ditonton di tv tadi) agar anak tidak merasa ada yang hilang.
pilih acara yang tenang
ketika memilih acara sedapat mungkin mencari acara yang dapat membuatnya interaktif ikut bernyanyi, menari dan bergerak. jauhkan anak dari acara kekerasan (walaupun itu film kartun, misalnya tom & jerry). anak yang menonton kekerasan di tv akan menampilkan perilaku yang lebih agresif.
dampingi anak
dampingi anak ketika dia sedang menonton. jangan biarkan dia menonton tv sendirian sehingga akan menelan mentah mentah seluruh materi yang dia tonton di tv. berikan penjelasan terkait dengan materi, atau tambah sedikit cerita lagi agar dia paham (ini bisa dilakukan ketika jeda iklan). untuk kita yang menonton tv nasional (bukan tv berlanganan), jelaskan juga materi iklan yang kadang membuat anak penasaran ingin mencoba. jangan sampai anak kita melompat dari jendela kamar di lantai 2 karena ingin mengikuti iklan sebuah deodoran.
lengkapi materi tontonan
ketika selesai acara ada baiknya materi acara di teruskan dalam permainan agar anak lebih tertarik untuk belajar. misalnya ketika tadi dora berhasil naik ke gunung lanjutkan dengan permainan mewarnai gunung, pohon dan sungai. atau ketika dora membutuhkan 3 koin untuk naik ke perahu lanjutkan dengan belajar berhitung.
untuk kita yang tidak bisa mendampingi anak setiap hari, sampaikan pula ini kepada pengasuhnya. kita semua sadar bahwa ketika kita menyerahkan pengasuhan anak kepada pengasuh, kita tidak lagi memegang kendali atas apa yang terjadi pada anak kita. beri pengertian ke pengasuhnya juga agar jangan sampai anak kita disuguhi dengan sinetron sepanjang hari, mereka bisa menonton sinetron malam hari ketika anak kita tidur. banyak cerita dimana pengasuh hanya membiarkan anak kita anteng di depan tv sementara si pengasuh asik dengan kegiatan nya sendiri.

dan terakhir, jangan lupa untuk selalu mendampingi anak kita menonton tv ketika sedang dirumah.

Komentar bertahan »

Mengantar Orang Tua ke Syurga

Mengantar Orang Tua ke Syurga
Masih ingatkah kita dengan sebuah kisah di masa Rasulullah? Tentang ketaatan seorang wanita yang ditinggal oleh suaminya berjihad dengan satu pesan, “Jangan pergi sebelum saya pulang”. Dan ternyata, dalam masa kepergian suaminya, orangtuanya sakit keras. Saudara-saudaranyapun memintanya hadir, untuk menemui orang tuanya yang sedang sakit, namun karena ketaatannya kepada suami, dia tak juga berangkat menemui orang tuanya hingga meninggal. Tentu, kita semua mengingatnya bukan?

Bagi kita manusia biasa, peristiwa tersebut terasa amat janggal. Tak masuk akal. Bagaimana mungkin seorang anak mampu bertahan tidak menemui orang tuanya yang sedang sakit keras bahkan sampai meninggal, hanya karena taat kepada pesan suami. Mungkin, sebagian kita bahkan akan mengumpat dan mencaci maki kepada wanita tersebut bila kita hidup di masa itu.

Kita akan katakan kepada wanita tersebut sebagai anak yang tak berbakti, anak yang tak tahu balas budi atas kasih sayang orang tua, anak yang keterlaluan, tak punya perasaan, dan berbagai umpatan yang lainnya.

Namun, apa kata Rasulullah ketika ditanya tentang kejadian itu? Rasulullah dengan mantap menjawab, bahwa orang tua wanita tersebut masuk surga karena telah berhasil mendidik anaknya menjadi wanita shalihah. Subhaanallah!

Karenanya, marilah kita para orang tua berusaha sekuat tenaga, untuk menjadikan anak-anak kita menjadi anak-anak yang sholeh dan sholihah. Anak yang akan senantiasa mendo’akan kita kapan pun dan di manapun berada. Anak lelaki yang mampu menjadi qowwam bagi keluarganya, dan tetap berbakti kepada orang tuanya, serta anak perempuan yang menjadi istri dan ibu shalihah, yang mampu mengantarkan anak-anaknya menjadi anak-anak yang shaleh dan shalihah pula.

Kepada para orang tua yang telah mengantarkan putra-putrinya ke dalam kehidupan rumah tangga, janganlah menjadi orang tua yang egois, yang selalu ingin didampingi anak-anak, dan tak mau melepaskan kepergiannya. Relakan anak-anak pergi dari pangkuan kita, untuk menjalani hidup mandiri, menjadi nahkoda kapal layar yang telah dibangunnya, sebagai salah satu bukti kasih sayang kita kepada mereka.

Do’akan selalu, agar anak-anak lelaki kita dapat menjadi nahkoda-nahkoda yang handal, yang mampu mengarahkan bahtera rumah tangga menjadi rumah tangga yang barokah, penuh cinta dan kasih sayang, serta mampu menjadi qowam bagi istri dan anak-anaknya. Do’akan pula agar anak-anak perempuan kita dapat menjadi istri-istri sholihah, yang dapat mencipatakan suasana rumah yang bagaikan surga dunia dimata keluarganya, mampu melahirkan anak-anak yang taat kepada Allah dan kepada kedua orang tuanya, serta mampu memberikan rasa nyaman kepada suami dan anak-anaknya. Hingga pada akhirnya, mereka menjadi pengantar-pengantar kita meraih surga-Nya. Insya Allah. Aamiin.

Wallohu a’lam bishshowwab.

Nak….
Jadilah kau wanita sholihah Yang akan menjadi istri dan ibu yang sholihah pula Dan antarkanlah Umi dan Abi ke surga-Nya

Komentar bertahan »