Mayoritas manusia tentu mendambakan kebahagiaan, menanti ketentraman dan ketanangan jiwa. Tentu pula semua menghindari dari berbagai pemicu gundah gulana dan kegelisahan. Terlebih dalam lingkngan keluarga. Ingatlah semua ini tak akan terwujud kecuali dengan iman kepada Alloh, tawakal dan mengembalikan semua masalah kepadaNya, disamping melakukan berbagai usaha yang sesuai dengan syari’at.
Arsip untuk Umum
AYAH BERKEWAJIBAN MENDAKWAHI ANAKNYA DENGAN CARA TERBAIK
Pertanyaan. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Sebagian orang tua yang patuh beragama sering menghadapi kesulitan disebabkan ketidak patuhan anak-anak mereka secara sempurna terhadap hukum-hukum Islam. Misalnya dalam menjaga shalat dan dasar-dasar Islam lainnya, bahkan melakukan beberapa perbuatan maksiat, seprti menonton film, memakan riba, terkadang tidak menghadiri shalat berjama’ah –kadang-kadang-, mencukur jenggot serta kemungkaran-kemungkaran lainnya. Maka apakah sikap seorang ayah yang muslim dan taat (mustaqim) terhadap anak-anak tersebut ? Dan apakah ia harus bersikap keras terhadap mereka atau bersikap lembut ?
Anak Adalah Pemberian Allah Azza wa Jalla
Anak merupakan pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada manusia. Allah menciptakan apa-apa yang Ia kehendaki dan memberikan kepada siapa saja yang Ia kehendaki. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala
“Artinya : Kepunyaan Allah kerajaan langit dan bumi. Ia menciptakan apa-apa yang Ia kehendaki. Ia memberikan kepada siapa yang Ia kehendaki anak-anak perempuan dan Ia memberikan kepada siapa yang Ia kehendaki anak-anak laki-laki. Atau (Ia memberikan kepada siapa yang ia kehendaki) anak-anak laki-laki dan perempuan. Dan Ia jadikan siapa yang Ia kehendaki mandul (tidak dapat mempunyai anak). Sesungguhnya Ia Maha Mengetahui (dan) Maha Berkuasa[1]” [Asy-Syuura : 49-50]
Dari ayat yang mulia ini kita mengetahui berbedanya pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada manusia tentang anak menjadi empat bagian. [2] Baca entri selengkapnya »
Yang Dapat Menghalangi Hafalan
Setelah kita mengetahui beberapa kaidah dasar untuk menghafal Al-Quran maka sudah sepantasnya bagi kita untuk mengetahui beberapa hal yang menghalangi dan menyulitkan hafalan agar kita dapat waspada dari penghalang-penghalang tersebut.
Di antaranya:
1. Banyaknya dosa dan maksiat. Baca entri selengkapnya »
Punyaku, Punyamu, Punya Kita
Saling pinjam dan berbagi barang antar kakak-adik atau teman sepermainan sesungguhnya tidak
masalah. Asal, tidak main serobot tentunya.
Rifki (10) suka sekali memakai kaos bola Zaki (12), kakaknya. Awalnya sih masih pakai izin, tapi sekarang justru lebih sering pinjam tanpa izin. Akibatnya Zaki kerap kesal karena saat ingin memakai kaos kesayangannya, kaos itu tidak ada. Puncak kekesalannya terjadi saat berlangsung pertandingan final sepakbola antar RW, kaosnya itu lagi-lagi sedang dipakai Rifki.
Begitu juga Zahra (10) yang suka memakai tas Barney milik Aisyah (6), adiknya. Mulanya, Zahra hanya meminjam saat ada kegiatan ekstrakurikuler saja. Tetapi lambat laun, setiap ada kesempatan, ia memakai tas adiknya itu ke sekolah. Bahkan setelah sebulan berselang, ia bilang pada semua orang bahwa tas itu adalah miliknya.
Belajar berbagi
Kalimat “Aku pinjam tasnya, boleh?” sepintas tampak sepele. Padahal, kemampuan pinjam-meminjam terkait dengan banyak hal. Mulai dari kemampuan menghargai hak milik orang lain, berbagi, sampai tanggung jawab menjaga barang sendiri maupun barang pinjaman. Menurut Ika Pambadjeng, Psi, Psikolog Q Consultan, berbagi adalah sebuah proses belajar dan termasuk satu bentuk ketrampilan yang harus terus diasah karena balita atau batita ‘ego’nya begitu tinggi.
Bagi seorang anak, saat tertarik pada barang tertentu dan muncul keinginan untuk memilikinya, mereka akan langsung mengambil atau menguasai barang tersebut dengan atau tanpa izin. Bahkan bagi anak, mereka tak perlu tahu siapa pemilik barang yang sebenarnya. “Kalau aku suka, ini punya aku. Semua barang punyaku,” Ika menirukan ucapan balita pada umumnya dalam memandang barang milik orang lain yang ditaksirnya. Tak heran, anak-anak jadi sering berantem dengan teman atau saudara dengan alasan rebutan.
Bila rentang usia kakak dan adik cukup jauh, misalnya kakak sudah SD dan adik masih balita, kakak bisa saja mengalah pada adiknya. Repotnya, bila usia anak sama-sama balita, atau sama-sama SD. Kebutuhan terhadap barang mereka sama besar, sementara kematangan untuk berbagi belum cukup. Bila keadaannya seperti itu, maka yang harus diajarkan adalah adab meminjam, bukan berbagi. Baik untuk barang-barang besar hingga kecil, seperti sepeda, bola, buku, mainan, dan sebagainya.
Sadar hak milik
Tumbuhnya kesadaran anak soal pinjam-meminjam barang harus dimulai dari pengajaran tentang hak kepemilikan barang. Anak harus tahu bahwa ada barang yang menjadi miliknya sendiri, milik orang lain, dan milik bersama. Siapa pun yang hendak memakai barang orang lain, termasuk orangtua, harus izin terlebih dahulu. Misalnya, “Ibu perlu pensil untuk menulis, bolehkah pinjam pensil Kakak?”
Sayangnya, orangtua justru sering lupa meminta izin bila mau meminjam barang dari anaknya dengan pikiran toh barang ini dari saya juga…saya yang membelikannya. Padahal dengan pembiasaan meminta izin, anak-anak belajar menghargai milik orang lain sekaligus terlatih juga untuk bertanggungjawab menjaga barang miliknya. Tanpa izin, maka seorang Kakak, misalnya, tidak berhak memakai tas Adik, seberapapun besar keinginannya untuk memakainya. Memakainya saja tidak berhak, apalagi mengakui sebagai miliknya. Sementara bila satu barang disepakati menjadi milik bersama, perlu ditetapkan kesepakatan-kesepakatan yang dirancang dan dipatuhi bersama pula. Misalnya, sepeda. Atur waktu pemakaian agar Kakak-Adik menyepakati waktu gilirannya.
Lamanya proses belajar menyadari pentingnya menghargai hak milik ini memang tidak sama pada setiap anak. Ada anak yang cepat paham, ada yang tidak. Ada juga anak yang paham, tapi tidak sabar. “Aku tahu ini punya Kakak, tapi aku mau pakai.” ujar Ika mencontohkan. Dalam keadaan seperti itu, orangtua perlu turun tangan menjelaskan atau dalam kondisi darurat, melerai, memahami masalahnya, melihat siapa yang salah, lalu mengambil tindakan untuk mengatasinya. Hanya saja perlu diingat, jelas psikolog jebolan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini lagi, penjelasan sebenarnya sedikit sekali pengaruhnya pada anak. Yang paling baik adalah memberikan pembiasaan.
Soal ketidaksabaran, biasanya berhubungan dengan kematangan emosi. Pada anak laki-laki, ketidaksabaran ini umumnya membuatnya cepat berkelahi. Untuk mengatasi keadaan itu, Ika menyarankan orangtua secara teknis menahan badannya, memeluk, supaya tidak terjadi pukul-pukulan, atau menenangkan kalau salah satu menangis. “Tapi intinya, semua harus dimulai dengan mengenalkan dan membiasakan. Ini punyaku, ini punya kamu, ini punya kita berdua, dan kalau mau meminjam harus minta izin,” saran Ika, yang juga menjadi konsultan di Birru Consulting ini. Untuk memudahkan, boleh saja orangtua melakukan hal yang kreatif, misalnya dengan memberi tanda, label, atau menempelkan foto pada barang masing-masing.
Belajar bertanggungjawab
Menumbuhkan kesadaran hak milik sebaiknya juga dibarengi proses mengajarkan tanggung jawab dengan memberikan penekanan pada tanggungjawab keseharian seperti “Ini sepatu Kakak, simpan yang baik, dijaga ya.” Begitu juga kalau barang anak rusak atau hilang oleh dirinya sendiri, jangan segera membantu atau menggantinya tetapi mintalah anak bertanggungjawab terlebih dahulu. Kesalahan yang sering dilakukan orangtua adalah tidak mempersoalkan keadaan barang anak-anak, apakah rusak, hilang, atau tertinggal di suatu tempat.
Konsistensi orangtua juga sering hilang karena tidak tahan tangisan anak. Dengan mudahnya, orangtua membelikan barang baru, apalagi jika harganya murah tanpa mempersoalkan kenapa barangnya rusak atau hilang. “Daripada anak nangis, balon kan cuma lima ratus. Udah beliin lagi aja…” ujar Ika menyayangkan prinsip salah kaprah para orangtua.
Anak yang tidak merasa bertanggungjawab terhadap barang miliknya, bahkan mudah saja memberikan barang itu pada orang lain, meski masih baru. Kelihatannya baik hati, tetapi menurut Ika tidak demikian. “Perilaku itu bukan menunjukkan kematangan perilaku dalam berbagi meskipun kelihatannya baik hati. Itu lebih dikarenakan anak tidak merasa memiliki tanggungjawab dan penghargaan atas barang miliknya, sehingga hilang pun tak jadi masalah,” jelasnya.
Karenanya perlu dipahami bahwa kemampuan berbagi justru dimulai dari kemampuan merasa memiliki terlebih dahulu, sehingga ketika anak memberikan barangnya kepada orang lain, ia akan merasa bahwa ia sedang memberikan atau meminjamkan miliknya kepada orang lain
Tak ada kata terlambat
Untuk mengajarkan tanggung jawab menjaga barang dan penyadaran hak milik, Ika menyarankan orangtua memulainya dari barang kesayangan anak seperti boneka, buku, bantal, dan sebagainya.
Sejak anak 3 tahun, orangtua sudah bisa mengajarkan, “Ayo simpan bukunya yang rapi, ya. Jangan sampai hilang.†Atau “Bonekanya jangan sampai hilang, ya, nanti kamu tak bisa tidur bareng boneka.†Atau “Ini punya kamu, kamu yang tanggung jawab, ya. Kamu harus mengurusnya sendiri.”
Memulainya memang paling baik pada saat anak masih balita, saat orangtua masih menguasai kehidupan anak seluruhnya. Bila anak sudah masuk SD, pembentukannya lebih sulit. “Anak SD perlu penjelasan, contoh yang lebih banyak, berkali-kali pula harus diiingatkan. Apalagi kalau remaja, yang merasa sudah punya otonomi sendiri,” tutur ibu dari satu anak ini.
Sebagai penutup Ika menjelaskan bahwa perubahan perilaku tak mungkin terjadi secara instan. Rumus dasarnya, berapa lama terbentuknya perilaku yang salah, selama itu pula harus diperbaiki. Jadi, kalau proses tidak bisa berbagi dan meminjamkan barang berlangsung sampai usia 9 tahun, kira-kira selama itu pulalah proses memperbaikinya. Meski demikian, tak ada kata terlambat, dan orangtua dapat memulainya serta membuat percepatan dengan mengubah perilakunya terlebih dahulu.
Bingkisan Berharga bagi Si Kecil adalah AQIDAH
Penulis: Ummu Ayyub
Dimurojaah oleh: Ustadz Subhan Khadafi
Fase kanak-kanak merupakan tempat yang subur bagi pembinaan dan pendidikan. Masa kanak-kanak ini cukup lama, dimana seorang pendidik bisa memanfaatkan waktu yang cukup untuk menanamkan dalam jiwa anak, apa yang dia kehendaki. Jika masa kanak-kanak ini dibangun dengan penjagaan, bimbingan dan arahan yang baik, dengan izin Allah subhanahu wata’ala maka kelak akan tumbuh menjadi kokoh. Seorang pendidik hendaknya memanfaatkan masa ini sebaik-baiknya. Jangan ada yang meremehkan bahwa anak itu kecil.Mengingat masa ini adalah masa emas bagi pertumbuhan, maka hendaknya masalah penanaman aqidah menjadi perhatian pokok bagi setiap orang tua yang peduli dengan nasib anaknya.
Penanaman Aqidah
Aqidah islamiyah dengan enam pokok keimanan, yaitu beriman kepada Allah subhanahu wata’ala, para malaikat, kitab-kitab, para rasul, hari akhir, serta beriman pada qadha’ dan qadar yang baik maupun yang buruk, mempunyai keunikan bahwa kesemuanya merupakan perkara gaib. Seseorang akan merasa hal ini terlalu rumit untuk dijelaskan pada anak kecil yang mana kemampuan berfikir mereka masih sangat sederhana dan terbatas untuk mengenali hal-hal yang abstrak.
Sebenarnya setiap bayi yang lahir diciptakan Allah subhanahu wata’ala di atas fitrah keimanan.
Allah berfirman dalam QS. Al Α’rof: 172 yang artinya, “Dan (ingatlah) ketika Rabb-mu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) ‘Bukankah Aku ini Rabb-mu?’ Mereka menjawab, ‘Betul (Engkau Rabb kami), kami menajdi saksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang yang lengah terhadap ini (keesaan Allah).’”
Adalah bagian dari karunia Allah subhanahu wata’ala pada hati manusia bahwa Dia melapangkan hati untuk menerima iman di awal pertumbuhannya tanpa perlu kepada argumentasi dan bukti yang nyata. Dengan demikian, menanamkan keyakinan bukan dengan mengajarkan ketrampilan berdebat dan berargumentasi, akan tetapi caranya adalah menyibukkan diri dengan al Quran dan tafsirnya, hadits dan maknanya serta sibuk dengan ibadah-ibadah. Kita perlu membuat suasana lingkungan yang mendukung, memberi teladan pada anak, banyak berdoa untuk anak, dan hendaknya kita tidak melewatkan kejadian sehari-hari melainkan kita menjadikannya sebagai sarana penanaman pendidikan baik itu pendidikan aqidah maupun pendidikan lainnya.
Teladan Kita
Jika kita perhatikan para rasul dan nabi, mereka selalu memberikan perhatian yang besar terhadap keselamatan aqidah putera-putera mereka. Perhatian nabi Ibrahim, diantaranya adalah sebagaimana terdapat dalam firman Allah subhanahu wata’ala yang artinya:
“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yaqub. (Ibrahim berkata): Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama islam.” (QS. Al Baqoroh: 132)
“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: Ya Rabb-ku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala.” (QS. Ibrahim: 35)
Demikian juga Lukman mempunyai perhatian yang besar pada puteranya sebagaimana wasiatnya yang disebutkan dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala yang artinya:
“(Luqman berkata): Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS. Luqman: 16)
“Dan (ingatlah) ketika luqman berkata kepada anaknya, di waktu dia memberi pelajaran kepadanya: Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13)
Sejak Masih Kecil
Perhatian terhadap masalah aqidah hendaknya diberikan sejak anak masih kecil. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalam memberikan perhatian kepada anak-anak meski mereka masih kecil. Beliau membuka jalan dalam membina generasi muda, termasuk diantaranya Ali bin Abi Thalib yang beriman kepada seruan nabi ketika usianya kurang dari sepuluh tahun.
Begitu juga dalam menjenguk anak-anak yang sakit pun beliau memanfaatkan untuk menyeru mereka kepada Islam yang ketika itu di hadapan kedua orang tua mereka. Kita juga bisa melihat bagaimana Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasalam mengajarkan permasalahan aqidah pada Ibnu Abas radhiyallahu ‘anhu yang pada saat itu dia masih kecil.
Imam Tirmidzi meriwayatkan hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata: Pada suatu hari saya pernah membonceng di belakang Rasulullah lalu beliau bersabda, “Wahai anak muda, sesungguhnya aku mengajarkan kepadamu beberapa kalimat. Jagalah Allah, niscaya Ia juga akan menjagamu. Jagalah Allah niscaya engkau akan mendapati-Nya ada di hadapanmu. Apabila engkau meminta sesuatu, mintalah kepada Allah. Ketahuilah, andaikan saja umat seluruhnya berkumpul untuk memberikan kemanfaatan kepadamu mereka tidak akan bisa memberikan manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andaikan saja mereka bersatu untuk menimpakan kemudharatan terhadapmu, mereka tidak akan bisa memberikan kemudharatan itu terhadapmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan lembar catatan telah kering.”
Jika para teladan kita begitu perhatian dengan anak-anak sejak mereka masih kecil, maka sangat mengherankan jika kita membiarkan anak-anak kita tumbuh dengan kita biarkan begitu saja terdidik oleh lingkungan dan televisi.
Masih banyak kita dapati bahwa oleh banyak orang, anak kecil dianggap tidak layak untuk diberi penjelasan mengenai Al Quran dan maknanya, dianggap tidak berhak untuk diberi perhatian terhadap mentalitasnya. Terkadang dengan berdalih “Kemampuan berfikir anak kecil masih sederhana, maka tidak baik membebani mereka dengan hal-hal yang rumit dan berat. Tidak baik membebani anak di luar kesanggupan mereka.” Atau kita juga banyak mendapati ketika anak terjatuh pada kesalahan-kesalahan, mereka membiarkan begitu saja dengan berdalih “Ah… tidak apa-apa, mereka kan masih kecil.”
Dalih yang disampaikan memang tidak sepenuhnya salah, namun sayangnya tidak diletakkan pada tempatnya. Wallahu a’lam.
Maroji’: Manhaj At-Tarbiyyah An-Nabawiyyah lit-Tilf (terj. Mendidik Anak Bersama Nabi)
Jual Beli dengan Nyawa kepada Allah
Kedzoliman dan Kebathilan Adalah Musuh Allah SWT dan Ana”
”Jika Ada pemimpin yang tidak Adil maka akan ana luruskan dengan Pedang”
Bismillahirrohmanirrohim
Assalamu’alaykum Warohmatullahi WabarokatuhSesungguhnya segala puji bagi Allah Tuhan yang memelihara sekalian alam. Kita memuji Dia, meminta pertolongan kepadaNya, memohon ampun kepadaNya, dan kita meminta perlindungan kepada Allah s.w.t. dari segenap kejahatan diri kita dan dari segala keburukan usaha kita. Barangsiapa diberi hidayah oleh Allah s.w.t. maka tiada siapa yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah s.w.t., maka tidak siapapun dapat memberi hidayah kepadanya. Aku mengaku bahawasanya Muhammad (s.a.w) itu hambaNya dan pesuruhNya. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan ialah firman Allah s.w.t. dan sebaik-sebaik hidayah ialah hidayah Muhammad s.a.w.. Sejahat-jahat perkara ialah perkara yang direka-reka di dalam agama dan setiap rekaan adalah bid’ah dan tiap-tiap bid’ah adalah kesesatan dan tiap-tiap kesesatan tempatnya di dalam neraka.
Akhowati Fiddien Rohimakumullah,
Tatkala Allah SWT memberikan perintah kepada hamba-hamba-Nya yang ikhlas, Ia tak hanya menyuruh mereka untuk taat melaksanakannya melainkan juga harus mengambilnya dengan quwwah yang bermakna jiddiyah, kesungguhan-sungguhan. Sejarah telah diwarnai, dipenuhi dan diperkaya oleh orang-orang yang sungguh-sungguh. Bukan oleh orang-orang yang santai, berleha-leha dan berangan-angan. Dunia diisi dan dimenangkan oleh orang-orang yang merealisir cita-cita, harapan dan angan-angan mereka dengan jiddiyah (kesungguh-sungguhan) dan kekuatan tekad.
Namun kebatilan pun dibela dengan sungguh-sungguh oleh para pendukungnya, oleh karena itulah Ali bin Abi Thalib ra menyatakan : “Al-haq yang tidak ditata dengan baik akan dikalahkan oleh Al-bathil yang tertata dengan baik”. Dakwah berkembang di tangan orang-orang yang memiliki militansi, semangat juang yang tak pernah pudar. Ajaran yang mereka bawa bertahan melebihi usia mereka. Boleh jadi usia para mujahid pembawa misi dakwah tersebut tidak panjang, tetapi cita-cita, semangat dan ajaran yang mereka bawa tetap hidup sepeninggal mereka.
Seperti digambarkan dalam QS. 11:120, orang-orang yang beristiqomah di jalan Allah akan mendapatkan buah yang pasti berupa keteguhan hati. Bila kita tidak kunjung dapat menarik ibrah dan tidak semakin bertambah teguh, besar kemungkinannya ada yang salah dalam diri kita. Seringkali kurangnya jiddiyah (kesungguh-sungguhan) dalam diri kita membuat kita mudah berkata hal-hal yang membatalkan keteladanan mereka atas diri kita. Misalnya: “Ah itu kan Nabi, kita bukan Nabi. Ah itu kan istri Nabi, kita kan bukan istri Nabi”. Padahal memang tanpa jiddiyah sulit bagi kita untuk menarik ibrah dari keteladanan para Nabi, Rasul dan pengikut-pengikutnya. Dengan iman terhadap hari akhir, seorang pejuang tidak kenal putus asa. Apa dan berapa saja pengorbanan di jalan Allah, ia sangat yakin akan catatan dan ganjarannya. Bahkan, Alquran melarang mengatakan mujahid yang syahid di jalan Allah sebagai mati karena mereka memang hidup (QS 2:154/ 3:169).
Iman terhadap hari akhir menyuburkan sikap tanggung jawab. Mereka yang dipuji-Nya sebagai orang-orang yang ”… pagi dan petang bertasbih di rumah-rumah Allah” adalah orang-orang yang tidak terlalaikan oleh aktivitas perdagangan dan jual beli, dari mengingat Allah, menegakkan shalat dan menunaikan shalat, ”Karena mereka takut akan hari saat berguncang-guncangnya hati dan penglihatan… (Qs 24:37)
Iman ini juga menghasilkan, memelihara, dan meningkatkan keikhlasan, keteguhan, dan semangat juang. Keberanian, kesungguhan dan optimisme adalah ciri khas mereka yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Tidak ada yang dapat menyuburkan iman seorang mukmin sebaik pengorbanan, seperti pupuk menyuburkan tetumbuhan. Seseorang yang berjiwa besar sangat sadar bahwa kemuliaan, kepemimpinan dan kebahagiaan tak mungkin diraih tanpa pengorbanan
Akhowati Fiddien Rohimakumullah,
“Dan jika kamu berpaling, maka ALLAH akan gantikan dengan kaum yang lain dan mereka tidak akan jadi seperti kamu” (Qs. 47: 38).
Masing-masing kita punya pengalaman pribadi dalam da’wah ini. Ada yang sejak 20 tahun terakhir dalam kesibukan yang tinggi, tidak pernah terganggu oleh kunjungan yang berbenturan dengan jadwal da’wah atau oleh urusan yang merugikan da’wah. Mengapa ? Karena sejak awal yang bersangkutan telah tegar dalam mengutamakan kepentingan da’-wah dan menepiskan kepentingan lainnya. Ini jauh dari fikiran nekad yang membuat seorang melarikan diri dari tanggungjawab keluarga.
Ada seorang ikhwah sekarang sudah masuk jajaran masyaikh. Dia bercerita, ketika menikah langsung berpisah dari kedua orang tua masing-masing, untuk belajar hidup mandiri atau alasan lain, seperti mencari suasana yang kondusif bagi pemeliharaan iman menurut persepsi mereka waktu itu. Mereka mengontrak rumah petak sederhana. “Begitu harus berangkat (berdakwah-red) mendung menggantung di wajah pengantinku tercinta”, tuturnya. Dia tidak keluar melepas sang suami tetapi menangis sedih dan bingung, seakan doktrin da’wah telah mengelupas. Kala itu jarang da’i dan murabbi yang pulang malam apalagi petang hari, karena mereka biasa pulang pagi hari. Perangpun mulai berkecamuk dihati, seperti Juraij sang abid yang kebingungan karena kekhususan ibadah (sunnah) nya terusik panggilan ibu. “Ummi au shalati : Ibuku atau shalatku?” Sekarang yang membingungkan justru “Zauji au da’wati” : Isteriku atau da’wahku ?”.
Dia mulai gundah, kalau berangkat istri cemberut, padahal sudah tahu nikah dengannya risikonya tidak dapat pulang malam tapi biasanya pulang pagi, menurut bahasa Indonesia kontemporer untuk jam diatas 24.00. Dia katakan pada istrinya : “Kita ini dipertemukan oleh Allah dan kita menemukan cinta dalam da’wah. Apa pantas sesudah da’wah mempertemukan kita lalu kita meninggalkan da’wah. Saya cinta kamu dan kamu cinta saya tapi kita pun cinta Allah”. Dia pergi menerobos segala hambatan dan pulang masih menemukan sang permaisuri dengan wajah masih mendung, namun membaik setelah beberapa hari. Beberapa tahun kemudian setelah beranak tiga atau empat, saat kelesuan menerpanya, justru istri dan anak-anaknyalah yang mengingatkan, mengapa tidak berangkat dan tetap tinggal dirumah? Sekarang ini keluarga da’wah tersebut sudah menikmati berkah da’wah.
Lain lagi kisah sepasang suami istri yang juga dari masyarakat da’wah. Kisahnya mirip, penyikapannya yang berbeda. Pengantinnya tidak siap ditinggalkan untuk da’wah. Perang bathin terjadi dan malam itu ia absen dalam pertemuan kader (liqa’). Dilakukan muhasabah terhadapnya sampai menangis-menangis, ia sudah kalah oleh penyakit “syaghalatna amwaluna waahluna : kami telah dilalaikan oleh harta dan keluarga” (Qs. 48:11). Ia berjanji pada dirinya : “Meskipun terjadi hujan, petir dan gempa saya harus hadir dalam tugas-tugas da’wah”. Pada giliran berangkat keesokan harinya ada ketukan kecil dipintu, ternyata mertua datang. “Wah ia yang sudah memberikan putrinya kepadaku, bagaimana mungkin kutinggalkan?”. Maka ia pun absen lagi dan dimuhasabah lagi sampai dan menangis-nangis lagi. Saat tugas da’wah besok apapun yang terjadi, mau hujan, badai, mertua datang dll pokoknya saya harus datang. Dan begitu pula ketika harus berangkat ternyata ujian dan cobaan datang kembali dan iapun tak hadir lagi dalam tugas-tugas dak-wah. Sampai hari ini pun saya melihat jenis akh tersebut belum memiliki komitmen dan disiplin yang baik. Tidak pernah merasakan memiliki kelezatan duduk cukup lama dalam forum da’wah, baik halaqah atau pun musyawarah yang keseluruhannya penuh berkah. Sebenarnya adakah pertemuan-pertemuan yang lebih lezat selain pertemuan-pertemuan yang dihadiri oleh ikhwah berwajah jernih berhati ikhlas ? Saya tak tahu apakah mereka menemukan sesuatu yang lain, “in lam takun bihim falan takuna bighoirihim”.
Akhowati Fiddien Rohimakumullah,
Perlu kehati-hatian – sesudah syukur – karena kita hidup di masyarakat Da’wah dengan tingkat husnuzzhan yang sangat tinggi. Mereka yang cerdas tidak akan membodohi diri mereka sendiri dengan percaya kepada sangkaan baik orang kepada dirinya, sementara sang diri sangat faham bahwa ia tak berhak atas kemuliaan itu. Gemetar tubuh Abu Bakar RA bila disanjung. “Ya ALLAH, jadikan daku lebih baik dari yang mereka sangka, jangan hukum daku lantaran ucapan mereka dan ampuni daku karena ketidaktahuan mereka”, demikian ujarnya lirih. Dimana posisi kita dari kebajikan Abu Bakr Shiddiq RA ? “Alangkah bodoh kita, percaya kepada sangka baik orang kepadakita, padahal kita tahu betapa diri jauh dari kebaikan itu”, demikian kecaman Syaikh Harits Almuhasibi dan Ibnu Athai’Llah.
Diantara nikmat ALLAH ialah sitr (penutup) yang ALLAH berikan para hamba-Nya, sehingga aibnya tak dilihat orang. Namun pelamun selalu mengkhayal tanpa mau merubah diri. Demikian mereka yang memanfaatkan lapang hati komunitas da’wah tumbuh dan menjadi tua sebagai seniman maaf, “Afwan ya Akhi”.{}
Betapa menyedihkan, kader yang grogi menghadapi kehidupan dan persoalan, padahal Ia yang memberinya titah untuk menuturkan pesan suci-Nya. Betapa bodohnya masinis yang telah mendapatkan peta perjalanan, kisah-kisah kawasan rawan, mesin kereta yang luar biasa tangguh dan rambu-rambu yang sempurna, lalu masih membawa keluar lokonya dari rel, untuk kemudian menangis-nangis lagi di stasiun berikut, meratapi kekeliruannya. Begitulah berulang seterusnya.
Ketika Da’wah ini muncul dan eksis dalam waktu yang sangat singkat, ia telah menyata-kan jatidirinya dengan jelas. Ia adalah kemenangan bagi siapa saja yang mau berjuang, tidak peduli anak siapa dan berapa kekayaan bapaknya. Ia tidak peduli penolakan Bani Israil paska nabi Musa AS ketika nabi mereka menyatakan bahwa Thalut yang miskin telah dipilih ALLAH untuk menjadi pemimpin mereka (Qs.2:247). Ia tidak juga meman-jakan ‘kesombongan intelektualisme’ kaum nabi Nuh AS yang mencap Nuh hanya diikuti oleh ‘orang-orang rendah, yang dangkal fikiran’ (aradziluna. badia’r ra’yi, tidak kritis, Qs. 11:27). Bahkan ia pun tak sungkan-sungkan menegur keras nabinya karena ‘logika prioritas’ yang dibangunnya menyebabkan Abdullah bin Ummi Maktum ‘nyaris tertinggal’. Alqur-an menyebutkan “Ia telah bermasam muka dan berpaling, ketika datang kepadanya hamba yang buta……” (Qs. 80:1-2).
Dimana posisimu ? Mungkin beberapa kalangan akan keberatan bila kukatakan engkau telah menyulam halaman da’wah di negeri ini dengan benang emas dan menyemaikan benih-benih berkah di lahan tandus, sehingga berubah menjadi ladang-ladang subur masa depan. Pohon keadilan, buah kemakmuran, bunga kesetaraan, ranah kesetiaan dan rumah kasih sayang. Bukan tujuanmu menciptakan iri. Ada yang begitu geram ketika hamba-hamba ALLAH perempuan keluar dari setiap gang dan kampus dengan jilbab mereka yang anggun dan IP mereka yang cemerleng. 20 tahun yang lalu harus keluar dari sekolah negeri yang dibangun dengan uang pajak mereka sendiri. Ya, kebangkitan memang bukan hanya sisi ini, namun banyak kebaikan tersimpulkan pada aspek ini. Intinya ; Perubahan.
Dan hari ini puncak gunung es itu telah memperlihatkan dinamika besar kebangkitan, shahwah yang penuh berkah. Tauhid adalah sistem konstruksi terpadu yang meletakkan segalanya tepat pada tempat, peran dan kepatutannya. Intelektual adalah sistem pengapianmu yang tak pernah padam. Kader-kader yang selalu ikhlas berkorban adalah roda yang siap menjelajah medan-medan berat. Keulamaan adalah sistem kendali-mu yang tahu kapan harus berbelok, menanjak, menurun dan menerobos hutan belantara, padang tandus serta bebatuan. Yang tak bergaransi ialah kondisi jalan, bahkan sekali pun dengan rute yang jelas dan lurus, kendaraan yang teruji, kru yang jujur, pakar dan sabar. Dari semua setting ini, tentukanlah dimana posisimu ; penonton yang mencari hiburan, penunggu yang tak punya empati, atau pengharap kegagalan karena ada yang tak sejalan dengan persepsi mereka. Atau penuntun dan pengikut dengan pengenalan sistem navigasi yang akurat dan keyakinan yang mantap, bahwa laut tetap bergelom-bang dan di seberang ada pantai harapan.
Ada sebuah analogi menarik. suatu ketika ada 2 ekor tikus(tikus A dan B) yang sengaja diletakkan di papan permaninan. Tugas utamanya adalah untuk mencari keju agar mereka tetap bisa bertahan hidup. Setiap pagi hari diletakkan keju pada gang/ tempat yang sama. Dengan mudah tikus-tikus itu makan setiap pagi harinya, kemudian kembali ke sarangnya (Tempat awal berangkat). Hal ini terjadi dalam kurun waktu 40 hari, pada hari ke 41, betapa terkejutnya 2 ekor tikus ini, karena di gang yang biasanya diletakkan keju, pada hari itu tidak ada lagi. Akhirnya kedua tikus itu pulang dengan perut kosong. Keesokan pagi harinya mereka berangkat pada jam yang sama di pagi hari, tapi betapa menyakitkan kenyataan yang mereka dapati. Mereka tidak menemukan keju mereka. Dan mereka kembali lagi dalam keadaan perut kosong. Hal ini terjadi dalam waktu 2 hari. Pada saat malam hari, hari ke3. tikus A merenungkan dan berfikir tentang kejadian beberapa hari ini. Dan akhirnya memutuskan tuk membulatkan tekad dengan mengajak saudaranya (Tikus B) untuk besok pagi berangkat lebih pagi, dengan harapan mencari keju2 yang tersembunyi di gang/tempat lain. Ketika pagi hari, dibangunkanlah tikus B untuk mendengarkan pemikirannya. Tetapi, tikus B rupanya enggan untuk berangkat lebih pagi, karena memilih tidur pulas. Dan gak mau menukar pulasnya tidur dengan pengorbanan untuk mencari keju2 yang tersembunyi di gang-gang. Ujung dari harapan baik tikus B yang tidak berbalas, tidak mnenyurutkan langkah Tikus A. Dia tetap berangkat lebih pagi. Sampai di gang yang biasanya terdapat keju, dia memberanikan diri untuk melangkahkan kakinya pertamakali, mengarungi jalan baru, dengan harapan “Aku harus menemukan keju untuk bertahan hidup”. Tapi sayang, karena jarak yang sudah ditempuh terlalu jauh dan waktu sudah larut malam, dia memutuskan untuk pulang saja. Juga dengan perut kosong, tapi dengan semangat yang makin membara.
Keesokan harinya dia (tikus A) melakukan hal yang serupa -mengajak saudaranya yang masih tidur- untuk menyusuri gang-gang untuk mencari tempat penyimpanan keju baru. Tapi kekecewaan lagi yang ia dapatkan. Pagi itu dia berangkat menyusuri jalan yang kemarin dia telah lewati sendirian. Hal serupa juga dilakukan Tikus B, tapi Tikus B hanya sampai di tempat yang sama, dimana peneliti meletakkan keju. Dan kembali dengan perut kosong setiap harinya, karena dia selalu berfikir “mungkin, besok akan ada keju”. Disaat bersamaan Alangkah mengejutkan, saat Tikus A menemukan tempat keju baru. Dia lantas makan sepuasnya dan karena sudah larut malam, dia tertidur karena kelelahan. Keesokan harinya Tikus A, masih melakukan rutinitasnya yang sama dan menyisakan keju dengan sepucuk surat untuk memotivasi saudaranya. Yang isinya: “Saudaraku, nilai pengorbananku –dengan meninggalkan tidur pulas dan berangkat lebih pagi untuk mencari keju-kini telah berbuah. Sebuah pilihan memang, apakah kita akan hidup pada persepsi ”mungkin besok akan ada keju” atau berjuang dengan mencoba melangkah untuk mewujudkannya menjadi nyata. Meski harus mengorbankan nyawa. Karena aku tidak mau mati dalam persepsi, tapi dalam langkah-langkah perjuangan”. Singkat cerita ukh, Tikus A terus berjuang dan menemukan apa yang dia harapkan. Juga tidak lupa dengan saudaranya, di hatinya berkata “apa yang saudaraku lakukan saat ini?mungkin yang harus aku lakukan adalah terus meninggalkan kata-kata motivasi, barangkali dia akan tambah semangat untuk mencari keju saat melihat tulisan yang aku tinggalkan di dinding ini”. Akhirnya Tikus B mati kelaparan, karena energinya terkuras habis untuk pulang-pergi dari tempat yang sama. Sedangkan Tikus A dapat keluar dari papan permainan itu. Khotimah : bayangkan, jika dalam ber jama’ah antum hanya ber2 saja seperti kisah di atas. Kemudian pertanyaannya antum mau menjadi siapa?(tapi jangan pingin jadi tikus Lho ya… ukh ;› ). Atau antum memilih mati berdua, karena gagal mengajak saudara antum?. Atau menjadi orang yang sangat kuat dengan berjuang (walau sendirian) untuk terus mencoba. Bedanya adalah kita punya Allah SWT yang memiliki dan mengasai langit dan bumi. Ketahuilah, Allah tidak pelit!!!tapi kadang, sama Allah saja kita tidak takut dengan terus-terusan bermaksiyat. Hal itu yang seharusnya menginspirasi Kita untuk tetap berjuang, meski sendirian. Karena Kita takut Nerakanya Allah yang apabila diletakkan kaki kita, maka otak kita akan mendidih, karena ketidak seriusan Kita dalam mengemban misi Da’i. Juga Berharap cemas, apakah Kita akan masuk surganya Allah, padahal apa yang Kita berikan untuk Islam belum sama seperti apa yang Kita dapat dari Allah. Inilah yang menginspirasi Kita untuk memberanikan diri memenggal kepala seseorang yang dengan jelas menghina Allah di depan mata Kita, meskipun sendirian. Tentu saja setelah dia jelas-jelas menunjukkan kebenciannya pada Allah, dan Kita sudah memastikannya. Karena mungkin seperti persepsi tikus A “mungkin ada segudang keju di gang berikutnya”, mungkin Kita akan masuk surganya Allah dengan ini. Allah, telah menunjukkan caranya yang sangat bijaksana agar kita bisa lebih baik.
Itulah mengapa, ketika allah mengatakan dalam Al-Qur’an ihdinash Shirothol mustakim. Shirotholladzina an’amta ‘alaihim…. . karena Allah ingin mengatakan: Semestinya orang-orang yang sholih yang Aku beri petunjuk, mampu menginspirasi Kalian untuk meniru keshilihannya. Semestinya Orang-orang kuat, tegar dan militan yang Aku beri petunjuk (Khodidjah, ‘Aisyah dll) menginspirasi Kalian untuk meneladani perjuangannya. Dan sangat indah sekali ketika tarbiyah, mendefinisakan ma’na tarbiyah itu sendiri, yaitu mengharuskan seseorang lebih baik dari hari-kehari. Saudariku, Kalau nanti Allah memilihku menjadi syahid, akan datang saudaraku menemuimu Membawa sebuah pundi kecil. Itulah darahku Siramlah taman jihad dan Da’wah di Fakultas Hukum, di Bastra, dan di FIA(Ini Kata2nya Ust. Osamah Bin Laden). Terakhir. Ajarilah Akhowat-akhowat yang bisu untuk bisa bicara. Agar mereka bisa berteriak!. Tanamlah bibit keberanian di ladang jiwa Akhowat-akhowat pengecut, agar mereka bisa melawan!. Kobarkan harapan di langit hati akhowat yang terjajah, agar mereka berontak!. Allahu Akbar!!!!. Perpisahan…Sesuatu yang tidak akan bisa dilepaskan dari sebuah rangkaian pertemuan. Bahwa setiap pertemuan akan diakhiri dengan perpisahan. Mungkin terpisah oleh jarak, mungkin terpisah oleh ruang, dan mungkin juga dipisahkan oleh Allah, Yang maha kuasa dalam mempertemukan dan memisahkan. Ana tau bahwa ikatan ukhuwah itu begitu kokoh dan akan kekal sepanjang masa. Ana tau bahwa kekokohan ikatannya insyaAllah tidak akan pudar walau terpisah ruang dan jarak. Ana tau bahwa Allah akan selalu mengikatkan hati – hati orang yang mencintai-Nya. tapi…kenapa air mata ini tetap mengalir….dan kenapa Ukhuwah ini begitu dalam hingga rasanya perpisahan terasa begitu berat…Minta do’anya, agar dimanapun kita, kita bisa bermanfaat bagi ISLAM dan orang lain.(dikutip dari berbagai sumber)
Semoga Allah menunjuki kita jalan orang-orang yang diberi petunjuk (Qs Al-Fatihah : 4&5).
Jazakumullah Khoiron Katsiro
Wanita dlm Dakwah
Mulai dari awal, sejarah mencatat bahwa wanita memainkan peranan penting dalam tersebarnya kebenaran mendasar dari dakwah Islam. Dari pengorbanan Sumayyah r.a. yang diceritakan dalam hadits-hadits dari Aisyah r.a., wanitalah yang menolong kemajuan dan penyebaran agama Islam. Allah swt. juga meninggikan status dari dai dan memuji mereka dalam Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya:
“ Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang-orang yang menyeru kepada Allah?” (QS. Fushilat ( 41) : 33).
Dakwah kepada agama Allah swt. adalah sebuah kewajiban atas setiap muslim dalam segala usia dan dalam waktu yang kita punyai, dakwah ini adalah penting dalam memberantas kejahatan-kejahatan serangan musuh-musuh Allah swt. yang sedang bertarung (dengan kita), dengan cara menggerakkan kembali pentingnya dakwah di hati kaum muslimin. Allah swt. tidak membatasi dakwah hanya kepada laki-laki saja tetapi menunjuk kepada seluruh umat Muhammad saw. ketika Allah swt. berfirman:
“ Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”. (QS. An-Nahl (16) : 125).
Oleh karena itu wanita justru sama seperti laki-laki (dalam hal dakwah) yang seharusnya juga menyeru kepada (agama) Allah swt. dan memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah keburukan dengan jalan dan tata cara yang telah ditunjuk oleh syara. Pada masa Rasulullah Muhammad saw., wanita mengambil peranannya sebagai da’iyah yang serius. Diriwayatkan oleh Abu Sa’id r.a. bahwa wanita pernah mendatangi Rasulullah saw. dan mengatakan,
” Kaum laki-laki telah membuat Anda sibuk dan kita tidak memperoleh perhatian yang cukup dari Anda, sudikah Anda mengkhususkan sebuah hari untuk kita?” Beliau saw. kemudian menjanjikan kepada mereka sebuah hari khusus untuk pertemuan dengan mereka dan mengajar mereka. (HR.Al-Bukhari)
Lebih lanjut Rasulullah saw. menegur orang-orang dengan mengatakan,”
Siapakah yang hadir di sini yang telah menyampaikan apa yang dia dengar kepada orang lain dan siapakah yang tidak hadir?” (HR. Bukhari)
Ini mengindikasikan bahwa sebaiknya melakukan pengajaran terhadap wanita (karena wanita tidak ikut dalam majelis tersebut), beliau memerintahkan kepada mereka untuk menyebarkan apa yang dia dengar.
Kita perhatikan fakta bahwa sejarah yang nyata telah memberikan kesaksian atas adanya para wanita yang memainkan peranan yang besar dalam menyampaikan Dinul Islam. Sumayyah r.a. memberikan hidupnya ketika Abu Jahal membunuhnya karena ia memeluk Islam. Dia adalah muslim pertama dari wanita yang syahid demi untuk agamanya. Khodijah r.a., istri pertama Muhammad saw. yang sangat kaya, telah membelanjakan seluruh uangnya untuk mendukung dakwah. Ummu Salamah r.a. rela meninggalkan suaminya dan melihat anak-anaknya dianiaya ketika dia hijrah. Ummu Imarah r.a. berperang mempertahankan Rasulullah saw. dalam perang Uhud.
Seseorang harus memahami penekanan akan kewajiban ini dan berbuat sebagaimana Rasulullah telah mencontohkannya bahwa Rasulullah saw. memerintahkan untuk menyampaikan Islam dan tidak tinggal diam serta pasif, sebagaimana Allah berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah kami menerangkannya kepada manusia dalam “Al-Kitab”, mereka itu dilaknati Allah…” (QS. Al Baqarah( 2) : 159).
Wallahu’alam bis showab!
Mujahidah
Dari Ummu Athiyah Nasiibah ra, dia berkata: Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam membai’at kami untuk tidak meratap. (HR. Al Bukhori dan Muslim) di dalam shohihnya III/141, dan Muslim no. 639.
Saya kira umat ini telah mandul untuk melahirkan seorang sosok seperti Khonsa’ dan Haulah binti Azwar, akan tetapi saya melihat para wanita abad dua puluh ini ada orang-orang yang ingin menjadi seperti para pahlawan wanita ini. Saya lihat seperti Ummu Muhammad istri Asy Syahid Abdulloh Azzam, dalam satu hari dia kehilangan tiga orang yang termasuk manusia-manusia paling mulia, suaminya dan kedua buah hatinya (Muhammad dan Ibrohim) dan dia mengira bahwa hal itu adalah di jalan Alloh.
Demi Alloh, yang tidak ada ilah selain Alloh, sungguh aku sangat bingung apa yang harus kita lakukan untuk berbela sungkawa kepadanya ketika dia masuk untuk bertemu dengan mereka untuk melihat mereka untuk mengucapkan perpisahan yang terakhir. Saya katakan: “Bagaimana mungkin seorang perempuan seperti dia dalam kondisi seperti ini masih ingin melihat mereka? Akan tetapi dia yakin bahwa Alloh SWT menurunkan kesabaran sesuai dengan ujian yang dia hadapi. Diriku merasa kecil jika membayangkan kondisinya ketika dia melihat mereka.
Ummu Muhammad berkata: “Ketika kami sampai dirumah Syaikh maka segera saya ingin bertemu untuk melihat mereka yang terakhir kalinya, aku dapati tiga orang dalam keadaan tertutup, kemudian aku dapati anakku yang pertengahan Khudzaifah berdiri di depanku. Maka aku yakin bahwa orang itu adalah suamiku, dan anakku yang paling besar Muhammad (21 tahun) serta anakku yang ketiga (16 tahun), maka aku masuk ke dalamnya dan aku ucapkan perpisahan terakhir kemudian aku kembali ke rumahku, dan aku telah berjanji kepada Alloh untuk tidak menangisi mereka, karena suamiku sebelum kesyahidannya dia pernah bertanya kepadaku: “Apa yang akan engkau lakukan jika Alloh memberikan rezeki kesyahidan kepadaku?” Lalu aku menjawab: “Aku akan bersabar dan tabah insyaAlloh”. Dan sungguh benar-benar aku telah memenuhi janjiku kepadanya, dan aku memohon kepada Alloh untuk memberikan kepadaku kesabaran dan keteguhan hingga mati. (Disadur dari pertemuan di majalah Al Mujtama’ edisi 849, 2 January 1990 M)
Sesungguhnya itu adalah pendidikan Islam secara praktek dari beberapa kejadian-kejadian yang membuat umat ini sebagai sumber yang tidak akan habis airnya untuk mengeluarkan bagi kita orang seperti wanita mujahidah dan sholihah ini, supaya menjadi pelita dan panutan bagi seluruh wanita di dunia ini pada zaman sekarang ini.
Tidak diragukan lagi bahwa istri mujahid ini masih akan terus menjadi contoh yang paling baik bagi para wanita umat ini. Dan dia berada di barisan wanita yang terdepan di medan jihad. Dialah pendiri Al Lajnah An Nisa’iyah Al Arobiyyah (Yayasan Wanita Arab) yang memiliki andil yang sangat besar di dalam berkhidmat untuk jihad. Di bidang pengajaran dan kesehatan serta kesejahteraan keluarga para syuhada’ dan anak yatim.
Sesungguhnya bagi para wanita di dalam Islam memiliki peran yang sangat penting dan jelas di medan jihad. Telah disebutkan di dalam hadits shohih dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, yang diriwayatkan oleh Al Bukhori dari Rubai’ binti Muawwidz rodhiyallohu ‘anha dia berkata: “Kami berperang bersama Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, kami memberi minum para prajurit dan membantu mereka, mengembalikan yang terluka dan yang terbunuh ke Madinah”.
DR. Abdulloh Azzam berkata tentang hukum keikut sertaan wanita di dalam berjihad: “Peran wanita di dalam jihad adalah perkara yang telah disebutkan di dalam syareat, akan tetapi wajib menjaga syarat-syarat yang disyareatkan: seperti adanya mahrom, tidak bercampur dengan laki-laki, aman dari fitnah, dan ketika dalam keadaan terpaksa yang tidak mampu dilakukan oleh laki-laki. Bisa juga para wanita berada di barisan belakang untuk melakukan kegiatan memasak, mengobati yang sakit dan semisalnya dari kegiatan-kegiatan wanita.
Sedangkan membuka pintu di dalam masalah ini adalah kerusakan yang besar. “Dan jika aku pernah lupa maka aku tidak lupa peran wanita muslimah Afghon di dalam pelaksanaan jihad Afghonistan. Berapa banyak sikap wanita Afghoni di utara Afghonistan dapat membangkitkan semangatku, di desa Khoniz, berkata Syahid Umat Islam ini Abdulloh Azzam: “Kami ketika berada di jalan antara Bazarik dan Rokho kami melewati desa yang namanya Khoniz kemudian Ahmad Mas’ud menunjuk desa tersebut dan berkata: “Di desa ini ada seorang wanita dan anak-anaknya membantu kami pada tahun 1982 M, dan di desa itu tidak ada yang lain selain dia, anaknya seorang mujahid yang berjihad bersama kami, dan kami sangat takjub dengan keberanian wanita tersebut. Jika kami melihat bom itu semakin deras maka kami bersembunyi, namun dia tidak bersembunyi, padahal pada tahun itu peperangan sangat sengit sekali, dan kekuatan itu sangat dekat dengan kami.
Wanita tersebut yang membuat roti buat kami, dia memasak makanan kemudian memberikannya kepada kami dan anaknya. Pada suatu hari langit menghujani kami dengan awannya yang sangat panas, dan tank-tank menyalakkan kobaran apinya, dan kami pada waktu itu berada di sebuah kamar, lalu kami berusaha untuk berpencar, ternyata perempuan tersebut berdiri di depan pintu dan berkata: “Janganlah kalian keluar! Karena api ada dimana-mana nanti akan mengenai kalian”. Dan anak perempuannya ikut membantunya membuat roti dan memasak, tiba-tiba dia terkena serpihan bom dan membunuhnya, maka kemudian dia menutupi anaknya dengan kain penutup lalu perempuan tersebut melanjutkan memasaknya. Kemudian suaminya juga menemui kesyahidan dan tidak ada yang tersisa lagi selain anaknya yang mujahid, lalu anaknya tersebut juga mendapatkan karunia kesyahidan.
Maka seluruh kaum mujahidin bersedih hati dengan hilangnya anak tersebut, lalu kami datang untuk bertakziyah kepadanya. Lalu wanita itu mengatakan: “Sungguh kesedianku karena tidak dapat memberikan bantuan makanan kalian itu lebih aku rasakan daripada kesedihanku karena kehilangan anak kesayangan hatiku, oleh karena itu sesungguhnya mulai hari ini aku akan terus memasak makanan untuk kalian, dan aku akan membuat roti untuk kalian, aku tinggalkan dan kalian datang untuk membawanya sendiri”. Mas’ud berkata: “Aku kehilangan wanita itu, mungkin dia berhijroh ke Kabul. Dan demi jiwaku jika aku mengetahui tempatnya pasti aku akan membalas atas bantuannya kepada kami”.
Aku berdiri di hadapan keadaan ini dengan pengagungan dan kekaguman! Maka kukatakan Subhanalloh! wanita ini telah mengembalikan perjalanan para shohabiyat yang seperti wanita itu dari seorang wanita kalangan bani Abdud Daar ketika sampai kepadanya kabar kesyahidan suaminya dan saudaranya serta bapaknya, lalu dia berkata: “Apa yang terjadi dengan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam?” Mereka berkata: “Dia baik-baik saja”. Wanita tersebut berkata: “Setiap musibah selain pada dirimu wahai Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam adalah kecil” artinya “remeh dan sepele”.
Mana sikap sebagian wanita kaum muslimin di negara-negara Arab? Kalian melihat salah seorang diantara mereka yang takut dari kalajengking dan tikus jika masuk ke dalam rumahnya?
Pernah terjadi suatu kejadian di salah satu kota di Arab bahwa ada seorang perempuan yang suaminya bekerja sebagai guru di sebuah sekolahan Tsanawiyah dan tiba-tiba dia ditelpon oleh istrinya dan bilang cepat-cepatlah pulang karena ada sesuatu yang sangat penting!! Maka suaminya pulang dengan cepat sambil terengah-engah, ternyata istrinya bilang bahwa ada tikus di kamar ini!!.
Sesunggunya wanita seperti ini tidak dapat diandalkan untuk memberikan kemampuannya untuk kaum muslimin di medan-medan perang, apalagi untuk mendidik singa-singa dikandangnya untuk menjadi tentara Alloh, Robbul Alamin
Memuliakan Wanita
Rabi bin Khaitsam adalah seorang pemuda yang terkenal ahli ibadah dan tidak mau mendekati tempat maksiat sedikit pun. Jika berjalan pandangannya teduh tertunduk. Meskipun masih muda, kesungguhan Rabi dalam beribadah telah diakui oleh banyak ulama dan ditulis dalam banyak kitab. Imam Abdurrahman bin Ajlan meriwayatkan bahwa Rabi bin Khaitsam pernah shalat tahajjud dengan membaca surat Al Jatsiyah. Ketika sampai pada ayat keduapuluh satu, ia menangis. Ayat itu artinya, “Apakah orang-orang yang membuat kejahatan (dosa) itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka sama dengan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka. Amat buruklah apa yang mereka sangka itu!”
Seluruh jiwa Rabi larut dalam penghayatan ayat itu. Kehidupan dan kematian orang berbuat maksiat dengan orang yang mengerjakan amal shaleh itu tidak sama! Rabi terus menangis sesenggukan dalam shalatnya. Ia mengulang-ngulang ayat itu sampai terbit fajar.
Kesalehan Rabi sering dijadikan teladan. Ibu-ibu dan orang tua sering menjadikan Rabi sebagai profil pemuda alim yang harus dicontoh oleh anak-anak mereka. Memang selain ahli ibadah, Rabi juga ramah. Wajahnya tenang dan murah senyum kepada sesama.
Namun tidak semua orang suka dengan Rabi . Ada sekelompok orang ahli maksiat yang tidak suka dengan kezuhudan Rabi . Sekelompok orang itu ingin menghancurkan Rabi . Mereka ingin mempermalukan Rabi dalam lembah kenistaan. Mereka tidak menempuh jalur kekerasan, tapi dengan cara yang halus dan licik. Ada lagi sekelompok orang yang ingin menguji sampai sejauh mana ketangguhan iman Rabi .
Dua kelompok orang itu bersekutu. Mereka menyewa seorang wanita yang sangat cantik rupanya. Warna kulit dan bentuk tubuhnya mempesona. Mereka memerintahkan wanita itu untuk menggoda Rabi agar bisa jatuh dalam lembah kenistaan. Jika wanita cantik itu bisa menaklukkan Rabi , maka ia akan mendapatkan upah yang sangat tinggi, sampai seribu dirham. Wanita itu begitu bersemangat dan yakin akan bisa membuat Rabi takluk pada pesona kecantikannya.
Tatkala malam datang, rencana jahat itu benar-benar dilaksanakan. Wanita itu berdandan sesempurna mungkin. Bulu-bulu matanya dibuat sedemikian lentiknya. Bibirnya merah basah. Ia memilih pakaian sutera yang terindah dan memakai wewangian yang merangsang. Setelah dirasa siap, ia mendatangi rumah Rabi bin Khaitsam. Ia duduk di depan pintu rumah menunggu Rabi bin Khaitsam datang dari masjid.
Suasana begitu sepi dan lenggang. Tak lama kemudian Rabi datang. Wanita itu sudah siap dengan tipu dayanya. Mula-mula ia menutupi wajahnya dan keindahan pakaiannya dengan kain hitam. Ia menyapa Rabi ,
“Assalaamu alaikum, apakah Anda punya setetes air penawar dahaga?”,
“Wa alaikumussalam. Insya Allah ada. Tunggu sebentar” Jawab Rabi tenang sambil membuka pintu rumahnya. Ia lalu bergegas ke belakang mengambil air. Sejurus kemudian ia telah kembali dengan membawa secangkir air dan memberikannya pada wanita bercadar hitam.
“Bolehkah aku masuk dan duduk sebentar untuk minum. Aku tak terbiasa minum dengan berdiri,” kata wanita itu sambil memegang cangkir. Rabi agak ragu, namun mempersilahkan juga setelah membuka jendela dan pintu lebar-lebar. Wanita itu lalu duduk dan minum. Usai minum wanita itu berdiri. Ia beranjak ke pintu dan menutup pintu. Sambil menyandarkan tubuhnya ke daun pintu ia membuka cadar dan kain hitam yang menutupi tubuhnya. Ia lalu merayu Rabi dengan kecantikannya.
Rabi bin Khaitsam terkejut, namun itu tak berlangsung lama. Dengan tenang dan suara berwibawa ia berkata kepada wanita itu, “Wahai saudari, Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya. \” Allah yang Maha pemurah telah menciptakan dirimu dalam bentuk yang terbaik. Apakah setelah itu kau ingin Dia melemparkanmu ke tempat yang paling rendah dan hina, yaitu neraka?!”
“Saudariku, seandainya saat ini Allah menurunkan penyakit kusta padamu. Kulit dan tubuhmu penuh borok busuk. Kecantikanmu hilang. Orang-orang jijik melihatmu. Apakah kau juga masih berani bertingkah seperti in?!”
“Saudariku, seandainya saat ini malaikat maut datang menjemputmu, apakah kau sudah siap? Apakah kau rela pada dirimu sendiri menghadap Allah dengan keadaanmu seperti ini? Apa yang akan kau katakan kepada malakaikat munkar dan nakir di kubur? Apakah kau yakin kau bisa mempertanggungjawabkan apa yang kau lakukan saat ini pada Allah di padang mahsyar kelak?!”
Suara Rabi yang mengalir di relung jiwa yang penuh cahaya iman itu menembus hati dan nurani wanita itu. Mendengar perkataan Rabi mukanya menjadi pucat pasi. Tubuhnya bergetar hebat. Air matanya meleleh. Ia langsung memakai kembali kain hitam dan cadarnya. Lalu keluar dari rumah Rabi dipenuhi rasa takut kepada Allah swt. Perkataan Rabi itu terus terngiang di telinganya dan menggedor dinding batinnya, sampai akhirnya jatuh pingsan di tengah jalan. Sejak itu ia bertobat dan berubah menjadi wanita ahli ibadah.
Orang-orang yang hendak memfitnah dan mempermalukan Rabi kaget mendengar wanita itu bertobat. Mereka mengatakan, “Malaikat apa yang menemani Rabi . Kita ingin menyeret Rabi berbuat maksiat dengan wanita cantik itu, ternyata justru Rabi yang membuat wanita itu bertobat!”
Rasa takut kepada Allah yang tertancap dalam hati wanita itu sedemikian dahsyatnya. Berbulan-bulan ia terus beribadah dan mengiba ampunan dan belas kasih Allah swt. Ia tidak memikirkan apa-apa kecuali nasibnya di akhirat. Ia terus shalat, bertasbih, berzikir dan puasa. Hingga akhirnya wanita itu wafat dalam keadaan sujud menghadap kiblat. Tubuhnya kurus kering kerontang seperti batang korma terbakar di tengah padang pasir.
Sumber : ” Di Atas Sajadah Cinta. Kisah-Kisah Teladan Islami Peneguh Iman dan Penenteram Jiwa” – Habiburrahman El Shirazy